genre dalam penulisan novel

Apa Bedanya Genre, Subgenre, Kategori, dan Trope dalam Penulisan Novel?

Genre adalah kategori yang digunakan untuk mengelompokkan karya seni, sastra, musik, atau film berdasarkan karakteristik yang serupa. Kata genre diserap dari bahasa Prancis, genre, yang berarti “jenis” atau “tipe”.

Dalam dunia kepenulisan, genre bisa diibaratkan seperti sebuah kontrak antara penulis dan pembaca. Saat menyematkan genre pada sebuah karya, penulis sebenarnya sedang menjanjikan sebuah pengalaman membaca yang spesifik kepada audiens.

Melalui tulisan ini, saya akan mengajak kamu belajar mengenai:

  1. Genre dari sudut pandang para ahli.
  2. Perbedaan antara Genre, Subgenre, Kategori, dan Trope.
  3. Genre dan Subgenre dalam literatur.
  4. Kategori tulisan untuk pembaca modern.
  5. Trope populer di novel modern.
  6. Cara mengidentifikasi genre, tag, dan trope.

Artikel ini bertujuan untuk membantu penulis mengeksplorasi genre dan kategori cerita, agar bisa menghasilkan karya yang tepat sasaran dan menemukan pembaca setia.

Genre dari Sudut Pandang Para Ahli

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), genre adalah jenis, tipe, atau kelompok sastra atas dasar bentuknya; ragam sastra. 

Namun, dari kacamata para ahli, genre dapat dilihat dari tiga perspektif, yaitu:

1. Genre sebagai Kumpulan Aturan dan Batasan 

Genre dapat dipahami sebagai sebuah blue print atau sistem yang mengatur jalannya sebuah cerita. Beberapa pendapat sastrawan yang mendukung pemahaman ini, antara lain:

  • John Frow (Kritikus Sastra) mendefinisikan genre sebagai kumpulan batasan yang sudah menjadi konvensi (kesepakatan umum) yang sangat terorganisir untuk menciptakan dan memahami makna sebuah karya dalam bukunya yang berjudul Genre.
  • Robert Hodge dan Gunther Kress (Ahli Bahasa) menggambarkan genre sebagai bentuk standar teks yang menghubungkan pembuat, penikmat, topik, media, hingga situasinya. Dengan kata lain, genre mengendalikan bagaimana penulis membuat karyanya, sekaligus membentuk apa yang diharapkan oleh pembaca.
  • Marie-Laure Ryan (Pakar Ilmu Naratif) mengamati bahwa genre ditentukan oleh isi, aturan format, atau fungsi praktisnya. Lebih daripada itu, ia menekankan bahwa genre baru akan selalu muncul ketika ada kebutuhan komunikasi yang baru.

Kendati pandangan para ahli ini sangatlah valid, jangan sampai kamu sebagai penulis malah melihat genre sebagai penjara yang membatasi imajinasi. Penulis seharusnya melihat genre sebagai fondasi.

Ambil contoh saat kamu menulis novel thriller. Aturan utamanya tentu saja harus membuat pembaca menahan napas. Alih-alih merasa dibatasi, aturan ini justru menjadi pemandu yang sangat jelas tentang emosi apa yang harus kamu bangun di setiap bab novelmu.

2. Genre sebagai Kontrak Sosial dan Tradisi 

Genre juga merupakan bahasa rahasia yang digunakan penulis untuk berkomunikasi dengan pembaca. Bagaimana maksudnya?

  • Mikhail Bakhtin (Filsuf & Teoritikus Sastra) melihat genre sebagai sebuah kesepakatan sosial yang terbentuk oleh tradisi dan pengulangan pola. Ia menekankan bahwa genre bukanlah aturan mati, melainkan praktik yang terus berkembang mengikuti ruang dan waktu.
  • Alastair Fowler (Kritikus Sastra) menyatakan bahwa sistem ekspektasi dalam genre berfungsi layaknya sebuah kode. Dengan menggunakan kode ini—atau bahkan saat sengaja melanggarnya—proses penulisan karya menjadi jauh lebih efisien dan tepat sasaran.

Seperti yang sudah saya singgung di awal artikel tadi, genre adalah janji. 

Pembaca yang membeli novel romance berekspektasi cerita akan membuat mereka merasa gemas dan berbunga-bunga. Jika kamu melanggar kode ini dan membuat tokoh utamanya jadi pembunuh berantai di akhir cerita, maka pembaca akan merasa tertipu dan marah. 

Dari sini, kamu bisa melihat bahwa memahami genre bisa membantumu memenuhi—atau bahkan memanipulasi—ekspektasi pembaca dengan cerdas.

3. Genre sebagai Kerangka yang Tidak Bisa Dihindari 

Apakah seorang penulis bisa menulis cerita yang benar-benar bebas genre?

  • Jacques Derrida (Filsuf) menganalisis bahwa mustahil bagi penulis untuk menghindari genre. Meskipun ada aturan kaku bahwa genre tidak boleh dicampur-campur, dalam tulisannya yang berjudul The Law of Genre, ia berpendapat: “Setiap teks pasti masuk ke dalam satu atau beberapa genre; tidak ada teks yang benar-benar tanpa genre.”
  • John Hartley (Teoretikus Media) menyoroti bahwa genre bertindak sebagai pembatas ideologi. Genre membatasi potensi makna yang bisa digali dari sebuah teks, sehingga pembaca tidak menafsirkan sebuah cerita terlalu jauh keluar dari jalur yang sudah disediakan penulis.

Di berbagai Kelas Praktik Menulis yang saya selenggarakan, saya kerap menemui penulis pemula yang ingin menulis karya yang “berbeda dari yang lain” dan menolak dikotakkan ke dalam genre apa pun. Teori Derrida mengingatkan kita bahwa itu mustahil.

Pada akhirnya, karyamu pasti akan masuk ke dalam kategori tertentu. Daripada melawan sistem dan kebingungan memasarkan karyamu, lebih baik terimalah genre tersebut. Gunakan kerangka genre untuk memandu pembaca agar mereka bisa memahami batasan-batasan ceritamu seperti yang dikatakan Hartley.

Perbedaan antara Genre, Subgenre, Kategori, dan Trope

Penulis masa kini terbiasa menggunakan istilah genre, subgenre, kategori, dan trope secara bergantian, seolah semuanya adalah hal yang sama. Hal ini wajar terjadi karena keempat elemen tersebut biasanya kita masukkan secara bersamaan ke dalam kolom “tag” di marketplace, website, maupun platform digital dan media sosial.

Kenapa kita harus memasukkan semuanya ke dalam tag? Tentu saja untuk mempermudah pembaca menemukan cerita kita sekaligus mengatur ekspektasi mereka.

Strategi pemasaran buku modern sudah sangat berbeda dengan masa lalu. Dulu, orang harus datang langsung ke toko buku fisik untuk mengetahui karya apa yang baru terbit. Kini, pembaca datang dari berbagai platform digital. Mereka mencari bahan bacaan dengan memanfaatkan tag spesifik, lalu memilih buku yang paling sesuai dengan selera mereka.

Sebagai penulis, kita harus sadar bahwa membeli buku (maupun koin untuk unlock bab di platform novel) menuntut pembaca mengeluarkan uang yang tidak sedikit—apalagi jika mempertimbangkan harga produksi dan pajak buku di Indonesia saat ini. 

Bagi pembaca, membeli buku artinya menukar uang dan waktu. Oleh karena itu, tag berperan penting dalam memberitahu pembaca apakah buku yang mereka beli sudah benar-benar sesuai selera. Lewat tag, pembaca harus sudah bisa tahu kira-kira apa isi bukumu tanpa harus membuka bungkusnya maupun meluangkan waktu untuk membaca semua babnya.

BACA JUGA:   5 Cara Bikin Konflik Cerita yang Seru untuk Novelmu

Kendati demikian, ini bukan berarti penulis kemudian boleh memberi tag yang sedang populer pada buku yang kontennya tidak sesuai hanya agar bukunya terjual. Jangan sekali-sekali mempermainkan pembaca karena ini akan berdampak pada reputasi kamu sebagai seorang penulis.

Sebagai contoh, jika sebuah buku dilabeli dengan tag sweet romance, pembaca tentu berekspektasi mendapatkan cerita yang ringan. Jika ternyata isinya memuat unsur dark atau konflik psikologis yang berat tanpa keterangan apa pun, pembaca pasti akan merasa kecewa karena salah beli.

Kekecewaan akibat ekspektasi yang tidak terpenuhi ini bisa membuat pembaca ragu untuk melirik karya penulis yang sama di kemudian hari. Jadi, hargailah pembacamu. Berikan tag yang jelas dan transparan untuk memastikan ceritamu menemukan pembaca yang tepat sejak awal.

Nah, meskipun sering dilebur menjadi satu dalam bentuk tag; genre, subgenre, kategori, dan trope sebenarnya memiliki peran dan definisi yang sangat berbeda ketika kita merakit sebuah cerita.

Mari kita bedah satu per satu agar kamu bisa meramu tag ceritamu dengan lebih pas:

1. Genre Utama 

Genre adalah label utama yang memberikan janji paling dasar kepada pembaca. Fungsinya menjawab pertanyaan: “Cerita ini menjanjikan pengalaman baca seperti apa?”

Jika sebuah buku berlabel Romance, penulis menjanjikan cerita yang menitikberatkan perjalanan sebuah hubungan romantis kepada pembaca. Jika labelnya Mystery, maka janji utamanya adalah ada teka-teki yang menuntut untuk dipecahkan pada akhir cerita.

Genre utama adalah fondasi cerita yang tidak boleh meleset. Jika kamu melabeli ceritamu sebagai Mystery tapi teka-tekinya tidak pernah terjawab hingga halaman terakhir, pembaca akan merasa ditipu. Pastikan kamu tahu persis apa janji utama dari ceritamu dan penuhi janji tersebut.

2. Subgenre 

Subgenre adalah turunan dari genre utama yang berfungsi mempersempit ekspektasi pembaca. Fungsinya menjawab pertanyaan: “Versi lebih spesifik dari genre utama ini apa?”

Misalnya, dari genre utama Fantasy, pembaca akan diarahkan ke subgenre yang memiliki fokus lebih spesifik:

  • Urban Fantasy: Menampilkan elemen sihir yang tersembunyi di tengah peradaban kota modern.
  • Epic/High Fantasy: Menampilkan dunia sihir berskala besar dengan peta imajiner yang luas dan ancaman berskala global.
  • Eastern Fantasy: Menampilkan dunia magis yang kental dengan mitologi, filosofi, atau elemen budaya dari belahan dunia Timur (seperti xianxia, wuxia, atau mitos lokal).

Mengetahui subgenre membantumu menargetkan pembaca yang lebih spesifik (niche). Hal ini juga sangat memudahkan proses riset. Daripada mempelajari cara menulis fantasi yang terlalu luas cakupannya, kamu bisa langsung mempelajari cara membangun dunia untuk urban fantasy.

3. Kategori 

Berbeda dengan genre yang menentukan inti plot, kategori adalah tag tambahan yang menempel pada cerita untuk memberikan gambaran utuh tentang konteks, target pasar, hingga nuansanya.

Kategori cerita bisa dipecah menjadi beberapa lapisan berikut:

  • Target Pembaca (Usia): Untuk siapa cerita ini ditulis? (Contoh: Middle Grade, Young Adult, Adult).
  • Lokasi/Latar (Dunia): Di mana cerita terjadi? (Contoh: Small-town, Urban, Campus, Office).
  • Periode Waktu: Kapan cerita terjadi? (Contoh: Historical, 80s, Futuristic).
  • Profesi/Status Sosial: Di lingkungan seperti apa tokoh berada? (Contoh: Billionaire, Mafia, Medical, Legal).
  • Tone/Intensitas: Bagaimana nuansa emosi ceritanya? (Contoh: Cozy, Dark, Gritty, Wholesome).
  • Heat Level (Konten): Seberapa eksplisit atau dewasa isinya? (Contoh: Clean, Spicy, Smut, Mature).

Kategori adalah elemen penting dalam pemasaran (terutama untuk algoritma platform membaca online atau media sosial). Pembaca sering kali mencari buku berdasarkan kategorinya. Misalnya, mereka secara spesifik mengetik kata kunci: “Novel fantasi yang latarnya di kampus kedokteran dengan nuansa dark.”

4. Trope 

Trope berfungsi menjawab pertanyaan: “Pola cerita atau dinamika apa yang dipakai di dalamnya?”

Trope adalah perangkat cerita, situasi, atau dinamika antar tokoh yang sudah familier dan mudah dikenali oleh pembaca. Contoh trope yang sangat populer antara lain: enemies to lovers, fake dating, chosen one, found family, atau locked-room mystery.

Di kelas menulis privat Tika Widya, saya kerap menemukan beberapa penulis pemula menghindari trope karena takut dianggap klise. 

Padahal, trope justru merupakan nilai jual ceritamu. Misalnya saja, pembaca romance akan secara khusus mencari buku-buku dengan trope fake dating karena mereka menyukai pola tarik-ulurnya.

Jadi, tugas seorang penulis bukanlah menghindari trope, melainkan menggunakannya lalu menyuntikkan twist (kejutan) ala gaya penulisan kamu sendiri.

Tips Penting

Untuk memudahkanmu membedakan genre, subgenre, kategori (tag), dan trope dengan cepat, ingatlah ini:

  • Genre menjawab jenis ceritanya apa.
  • Subgenre menjawab versi spesifiknya apa.
  • Kategori menjawab konteks dan kemasan ceritanya (latar, target, tone).
  • Trope menjawab pola dinamika karakternya.

Studi Kasus dari Cerpen

Jika kamu masih bingung, mari kita analisis cerpen Orang Bati karya Tika Widya, yang berhasil memenangkan Sayembara Tempo sekaligus menjadikan saya sebagai Emerging Writer Australia Asia 2023.

Kamu bisa membaca dulu cerpennya, kemudian melihat hasil analisis genre dan kategorinya di bawah ini:

  • Genre Utama: Literary fiction (karena fokus pada tema batin, simbolisme, dan psikologi karakter).
  • Subgenre/Mode: Magical realism (ada unsur magis yang hadir di dunia realistis tanpa perlu penjelasan sistem sihir yang rumit).
  • Kategori Tone: Dark, gritty, emotional (sarat dengan isu trauma, stigma, dan kekerasan).
  • Kategori Latar: Rural/village (berlatar di desa terpencil yang masih kental dengan kepercayaan pada mitos).
  • Elemen Tambahan: Folk horror (menggunakan mitos lokal dan diwarnai aksi berdarah).

Penggabungan genre, kategori, dan elemen tambahan ini akan menghasilkan label yang akurat bagi cerita Orang Bati yaitu: Dark literary magical realism with folk horror elements (Cerpen realisme magis bernuansa gelap dengan unsur horor cerita rakyat). 

Genre dan Subgenre dalam Literatur 

Genre utama adalah janji utama yang diberikan penulis kepada pembaca tentang pengalaman baca apa yang akan mereka dapatkan. Namun, janji besar ini perlu dipersempit menjadi subgenre agar pembaca tahu persis variasi cerita seperti apa yang sedang kamu tawarkan. 

BACA JUGA:   5 Cara Menulis Transisi Narasi ke Dialog yang Mengalir dengan Baik

Kamu bisa melihat tabel ini untuk perbandingan jelasnya:

Genre UtamaJanji Contoh Subgenre 
RomanceMenjanjikan perjalanan sebuah hubungan yang (biasanya) berujung pada kepuasan emosional atau happy ending.Contemporary romance, historical romance, paranormal romance, romantic suspense, dark romance.
FantasyMenjanjikan elemen dunia atau unsur ajaib, sihir, mitologi, hingga sistem supranatural.Epic fantasy, urban fantasy, portal fantasy, high fantasy, low fantasy.
Science FictionMenjanjikan eksplorasi spekulasi sains, teknologi, masa depan, atau eksperimen sosial.Space opera, cyberpunk, cli-fi (climate fiction), post-apocalyptic, time travel.
MysteryMenjanjikan teka-teki, proses penyelidikan, dan jawaban yang terungkap di akhir cerita.Cozy mystery, whodunit, detective fiction, police procedural, locked-room mystery.
ThrillerMenjanjikan ketegangan, ancaman bahaya, adrenalin, dan tempo cerita yang bertempo cepat (fast-paced).Psychological thriller, legal thriller, spy thriller, political thriller, domestic thriller.
HorrorMenjanjikan rasa takut, teror, gangguan psikologis, atau ancaman makhluk yang mengerikan.Gothic horror, body horror, supernatural horror, folk horror, psychological horror.
Historical FictionMenjanjikan imersi atau perjalanan kembali ke latar peristiwa di masa lampau.Regency, Victorian, World War II fiction, colonial-era, alternate history, biographical fiction.
Contemporary FictionMenjanjikan cerita realistis yang mencerminkan kehidupan dan isu-isu di masa kini tanpa unsur magis.Women’s fiction, slice of life, domestic fiction, up-lit (uplifting literature), medical drama.
Literary FictionMenjanjikan eksplorasi mendalam pada karakter, tema, keindahan bahasa, psikologi, simbol, dan makna.Family saga, social novel, psychological literary, magical realism, absurdist fiction, satire.

Lahirnya Genre Gabungan (Mashup) di Era Modern

Daftar di atas adalah genre-genre klasik yang sudah ada sejak lama. Namun, seiring berjalannya waktu, selera pembaca masa kini menjadi semakin kompleks. Pembaca tidak lagi puas hanya dengan satu rasa; mereka ingin memadukan ketegangan thriller dengan teka-teki mystery, atau manisnya romance di tengah kejamnya dunia fantasy.

Kondisi ini mengingatkan kita kembali pada apa yang disampaikan oleh pakar ilmu naratif, Marie-Laure Ryan, di awal artikel ini: “Genre baru akan selalu muncul ketika ada kebutuhan komunikasi yang baru.”

Perkembangan zaman dan tren pembaca pada akhirnya melahirkan mashup atau genre gabungan. Beberapa contoh yang saat ini merajai pasar buku dan platform digital antara lain:

  • Romantasy (Romance + Fantasy): Menggabungkan sistem sihir dan pembangunan dunia fantasi dengan porsi kisah romantis yang sama kuatnya (bahkan sering kali menjadi penggerak utama plot). Genre ini meledak luar biasa di pasaran, salah satunya didorong oleh kesuksesan fenomena novel Fourth Wing karya Rebecca Yarros dan seri A Court of Thorns and Roses (ACOTAR) karya Sarah J. Maas.
  • Horror-Thriller: Menggabungkan tempo cerita yang sangat cepat dan memacu adrenalin (thriller) dengan elemen teror supranatural atau psikologis yang mengerikan (horror). Contoh yang sangat familier adalah novel Bird Box karya Josh Malerman, karya-karya Stephen King seperti Misery, atau film populer seperti A Quiet Place.
  • Sci-Fi Horror: Mengeksplorasi ancaman menakutkan (horror) yang lahir dari luar angkasa, eksperimen teknologi, atau mutasi genetik (science fiction). Contoh terkenalnya adalah novel Annihilation karya Jeff VanderMeer atau franchise film ikonik Alien.

Sebagai penulis, fenomena ini menjadi kabar baik. Kamu tidak harus membatasi diri secara kaku pada satu kotak saja. Mengawinkan dua genre utama yang berbeda—jika dieksekusi dengan rapi—justru bisa melahirkan karya yang segar, unik, dan mampu menjawab kebutuhan komunikasi baru dari pembaca modern.

Kategori Tulisan untuk Pembaca Modern

Untuk membuat ceritamu semakin mudah ditemukan oleh pembaca di platform novel digital, kamu akan membutuhkan kategori. Yang dimaksud dengan kategori dalam penulisan novel adalah tag tambahan yang memberikan gambaran utuh tentang dunia, target pasar, hingga nuansa emosional cerita.

Di sini, saya akan membahas enam kategori yang paling sering digunakan untuk meramu tag agar penulis bisa menemukan pembaca.

1. Kategori Usia atau Target Pembaca

Kategori ini berfungsi untuk menjawab novelmu seharusnya dibaca oleh usia berapa.

KategoriTarget Pembaca
ChildrenBuku untuk anak-anak secara umum (termasuk buku bergambar).
JuvenileBuku untuk anak-anak yang sudah mulai bisa membaca sendiri.
Middle Grade (MG)Pembaca praremaja, rentang usia 8 hingga 12 tahun.
Young Adult (YA)Pembaca remaja, umumnya rentang usia 13 hingga 18 tahun.
New Adult (NA)Masa transisi menuju kedewasaan, usia 18 hingga 25 tahun.
AdultPembaca dewasa seutuhnya, biasanya tokoh utama sudah matang.

Tag seperti Young Adult (YA) atau Middle Grade (MG) murni berfungsi sebagai target pasar. Di dalam payung YA, ceritanya masih bisa berupa fantasy, mystery, romance, hingga dystopian.

Penggunaan label ini sangat membantu pembaca mencari protagonis yang seumuran dengan mereka. Misalnya, novel fenomenal The Hunger Games karya Suzanne Collins menggunakan tag YA Dystopian Sci-fi (Sci-fi sebagai genre, Dystopian sebagai subgenre, dan YA sebagai target usianya).

Contoh lain, jika kamu menulis novel tentang anak sekolahan yang memecahkan kasus pembunuhan, kamu bisa menggunakan tag YA Mystery. Namun, jika detektifnya adalah seorang pria berumur 40 tahun dengan konflik rumah tangga, maka tag yang tepat adalah Adult Mystery.

2. Kategori Berdasarkan Latar Lokasi (Dunia Cerita)

Kategori lokasi menjelaskan cerita kamu terjadi di mana atau dalam lingkungan seperti apa.

TagLingkungan Cerita
UrbanBerlatar di kota modern secara umum.
MetropolitanFokus pada hiruk-pikuk kota besar, karier, dan gaya hidup urban.
Small-townKota kecil dengan komunitas warga yang saling kenal dekat.
RuralWilayah pedalaman atau pedesaan yang jauh dari akses kota.
VillageFokus pada kehidupan kampung tradisional dan budaya setempat.
CampusLingkungan akademik tingkat universitas.
SchoolKehidupan sekolah dan dinamika antarmurid.
Boarding SchoolKehidupan terisolasi di dalam sekolah asrama.
OfficeLingkungan dunia kerja di perkantoran.
WorkplaceTempat kerja spesifik selain kantor (misal: restoran, pabrik).
KingdomWilayah kekuasaan kerajaan secara luas.
PesantrenLingkungan relijius, pendidikan, dan kehidupan santri.

Menambahkan tag lokasi akan langsung memberikan imajinasi visual kepada pembaca. Pembaca yang mencari Urban Fantasy akan membayangkan elemen sihir yang tersembunyi di balik gedung pencakar langit. Sebaliknya, pembaca yang mencari Rural Horror bersiap untuk teror di desa terpencil yang jauh dari peradaban (contoh populernya di Indonesia adalah novel KKN di Desa Penari).

BACA JUGA:   Hindari 5 Hal ini Saat Bikin Sinopsis untuk Menulis Novel

Dalam genre romance, latar lokasi juga melahirkan pasarnya sendiri. Novel Critical Eleven karya Ika Natassa sukses besar dengan tag Metropolitan Romance (fokus pada gaya hidup ibu kota). Di sisi lain, tag Small-town Romance punya pembaca setianya sendiri yaitu mereka yang mencari kehangatan kota kecil di mana semua orang saling mengenal satu sama lain.

Satu catatan penting untuk diingat: hati-hati tertukar antara lokasi dan tone (nuansa). Small-town adalah lokasi, sedangkan Cozy adalah nuansa. Keduanya bisa digabung menjadi Cozy Small-town Mystery, yang menjanjikan cerita pembunuhan di kota kecil tapi disajikan tanpa unsur kebrutalan.

3. Kategori Berdasarkan Periode Waktu

Kategori ini membantu pembaca mengetahui pada periode waktu apa ceritamu terjadi.

TagPeriode Waktu
HistoricalCerita yang berlatar masa lampau secara umum.
Period DramaFokus menonjolkan budaya, norma, dan intrik sosial di era tertentu.
RegencyEra spesifik sejarah Inggris (awal abad ke-19).
VictorianEra spesifik saat Ratu Victoria memimpin (abad ke-19 akhir).
70s / 80s / 90sFokus pada nostalgia budaya pop di dekade spesifik tersebut.
ContemporaryCerita yang berlatar kehidupan masa kini.
FuturisticMasa depan dengan peradaban dan teknologi canggih.
DystopianMasa depan di mana sistem sosial atau realitasnya rusak/menindas.
Post-apocalypticKehidupan bertahan hidup setelah kiamat atau bencana besar.

Waktu akan sangat menentukan budaya, bahasa, hingga batasan teknologi tokohmu. Menyematkan tag 1990s Coming-of-age akan langsung memberitahu pembaca bahwa tokohmu tidak bisa melacak pujaan hatinya menggunakan media sosial karena di masa itu belum ada hape.

Label Historical Fiction juga tidak selalu melulu berisi kisah cinta (romance). Label ini hanya penanda masa lampau. Kamu bisa menulis Historical Mystery, atau drama keluarga berat berlatar penjajahan seperti novel legendaris Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

4. Kategori Berdasarkan Profesi, Status, atau Peran Sosial

Kategori ini sangat populer di platform digital karena ada banyak pembaca yang ingin tahu tentang profesi dan strata sosial dari tokoh utama novelmu.

TagProfesi/Status/Peran Sosial Tokoh
BillionaireTokoh superkaya dengan gaya hidup mewah dan uang tak berseri.
CEORelasi kerja, intrik korporat, dan ambisi tokoh di pucuk pimpinan.
MafiaKriminal terorganisir, bisnis gelap, loyalitas keluarga, dan bahaya.
SpyDunia mata-mata, penyamaran, operasi rahasia intelijen.
LegalDunia hukum, persidangan, pengacara, dan investigasi kasus.
MedicalDunia kesehatan, dinamika rumah sakit, dokter, dan pasien.
PoliceKepatuhan pada prosedur kepolisian dalam menegakkan hukum.
DetectivePenyelidikan kasus kriminal dan pemecahan teka-teki.
AthleteDunia kompetisi olahraga profesional dan ambisi juara.
CelebrityKehidupan dunia hiburan, skandal, ketenaran, dan citra publik.
RoyalKehidupan bangsawan, pewaris takhta, dan politik istana.

Tag profesi adalah senjata ampuh untuk marketing novel karena menjanjikan fantasi sosial kepada pembaca. Novel Crazy Rich Asians karya Kevin Kwan adalah contoh novel dengan tag Billionaire yang sangat memikat pembaca.

Label ini bisa menjadi subgenre atau sekadar setting sosial yang menempel pada genre utama. Jika kamu menggunakan tag Mafia Romance, pembaca tahu mereka akan mendapatkan kisah cinta yang dibumbui baku tembak dan konflik keluarga kriminal.

Begitu pula dengan tag Legal Thriller (seperti karya-karya novelis John Grisham) yang menjanjikan ketegangan adu argumen di dalam ruang sidang, atau Medical Romance yang menggunakan ritme sibuk rumah sakit sebagai tempat tokoh-tokohnya jatuh cinta.

5. Kategori Berdasarkan Tone atau Intensitas

Jika elemen lain mengurus teknis, kategori tone menjawab seperti apa nuansa atau ambience yang akan didapatkan pembaca ketika membaca novelmu.

TagNuansa / Ambience
CozyHangat, santai, dan minim kekerasan yang diekspos eksplisit.
WholesomeManis, sehat, dan memberikan rasa aman tanpa konflik beracun.
LightheartedCeria, tidak membebani pikiran pembaca, dan sangat santai.
HumorousMenonjolkan kelucuan, komedi, atau situasi kocak.
EmotionalMenggugah perasaan secara mendalam (fokus pada luka/pemulihan).
AngstyPenuh kerinduan, kesalahpahaman emosional, dan menguras hati.
DarkTema gelap, melibatkan trauma, kejahatan, atau moralitas abu-abu.
GrittySangat keras, realistis, kotor, dan diceritakan tanpa pemanis buatan.
BleakSangat suram, pesimistis, dan dunianya terasa tanpa jalan keluar.

Dua buah novel bisa sama-sama bergenre misteri pembunuhan, tetapi tone membuatnya berbeda 180 derajat. Novel The Thursday Murder Club menggunakan tag Cozy Mystery karena suasananya hangat dan lucu. Sebaliknya, novel Gone Girl karya Gillian Flynn menggunakan tag Gritty Psychological Thriller karena nuansanya yang sangat gelap, kasar, dan penuh manipulasi.

Tone sangat krusial untuk mengelola ekspektasi pembaca. Pembaca yang mencari Wholesome Romance akan marah jika disuguhi tokoh yang manipulatif (toxic). Sebaliknya, pencinta Dark Romance justru sengaja mencari tokoh dengan kompas moral yang rusak.

6. Kategori Berdasarkan Tingkat Konten (Heat Level)

Kategori terakhir ini berfungsi menjawab seberapa eksplisit konten dari novelmu sekaligus memberikan content warning.

TagPenjelasan
CleanBersih dari adegan seksual maupun umpatan kasar.
SweetRoman yang manis, menggemaskan, dan aman dibaca.
Closed-doorAdegan intim terjadi, tetapi penulis tidak mendeskripsikannya (pintu tertutup).
SpicyTerdapat adegan romantis/seksual dengan deskripsi yang cukup berani.
SteamyAdegan seksual dideskripsikan lebih panas dan mendetail daripada spicy.
SmutTag informal populer dari pembaca untuk novel yang sangat fokus pada seksualitas.
ExplicitAdegan seksual atau kekerasan berdarah (gore) ditunjukkan gamblang tanpa sensor.
EroticaPlot utama dan konflik ceritanya murni digerakkan oleh eksplorasi seksual.
MatureMemuat tema khusus kedewasaan, kekerasan berat, atau trauma mendalam.

Bagian ini sering kali menjadi sumber kesalahpahaman. Kamu harus ingat-ingat bahwa Romance, Erotica, dan Smut tidaklah sama, ya. Romance (seperti novel klasik Pride and Prejudice yang masuk kategori Clean) menjanjikan perkembangan hubungan emosional antara dua manusia dengan akhir yang bahagia.

Selanjutnya, Erotica (seperti seri Fifty Shades of Grey) akan menjadikan seksualitas sebagai elemen utama cerita. Sedangkan, istilah Smut lebih sering dipakai oleh komunitas pembaca internet (Wattpad, AU Twitter, dll) untuk melabeli novel-novel yang memang dicari pembaca karena adegan dewasanya.

Sebagai penulis, kamu wajib jujur pada bagian ini. Jangan sampai memberikan tag Sweet Romance pada novel yang ternyata berisi adegan Explicit tanpa peringatan. Ini adalah cara tercepat untuk merusak kepercayaan pembacamu.

Trope Populer di Novel Modern

Mari kita masuk ke elemen terakhir dan yang barangkali paling sering dibicarakan oleh pembaca masa kini: Trope. Trope merupakan pola cerita dari novel yang kamu baca. 

Secara etimologi, kata trope berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu tropos, yang berarti “putaran”, “arah”, atau “cara”. Istilah ini kemudian diserap ke dalam bahasa Latin menjadi tropus

Pada masa lampau, trope digunakan murni dalam ranah retorika untuk menyebut gaya bahasa atau kiasan (seperti metafora), di mana makna sebuah kata dimodifikasi dari makna aslinya untuk menciptakan efek dramatis.

Namun, seiring berkembangnya industri literasi, maknanya mengalami pergeseran. Dalam konteks penulisan fiksi modern, trope adalah pola, situasi, dinamika karakter, atau perangkat cerita yang sudah familier, sering muncul, dan langsung dikenali oleh pembaca.

Ini adalah tabel daftar trope populer yang sering muncul di novel modern.

Nama TropeDinamika / Pola CeritaSering Muncul di Genre/Kategori
Enemies to LoversDua tokoh yang awalnya saling membenci (atau berada di kubu berlawanan) perlahan saling jatuh cinta.Romance, Fantasy Romance, YA
Friends to LoversSahabat lama yang akhirnya menyadari bahwa perasaan mereka lebih dari sekadar pertemanan.Romance, Contemporary
Fake DatingPura-pura pacaran demi motif tertentu (membuat mantan cemburu, urusan keluarga), tapi akhirnya saling suka betulan.Romance, Romcom
Forced ProximityDua tokoh terpaksa berada di ruang atau situasi sempit yang sama (termasuk trope “One Bed”, di mana hanya ada satu ranjang tersisa).Romance, Thriller, Suspense
Grumpy / SunshineKarakter yang pemarah, dingin, atau sinis dipasangkan dengan karakter yang sangat ceria dan positif.Romance, Romcom
Slow BurnRomansa yang berkembang sangat lambat; penulis sengaja mengulur ketegangan emosional (angst) hingga berbab-bab sebelum mereka bersatu.Romance, Literary Fiction
Second ChanceMantan kekasih atau cinta lama yang berpisah karena ego/keadaan, lalu bertemu kembali di masa depan dan mencoba lagi.Romance, Contemporary
Marriage of ConveniencePernikahan kontrak yang didasari murni karena keuntungan sepihak, perlindungan, atau kesepakatan bisnis, bukan karena cinta.Romance, Historical Romance
Fated MatesPasangan yang memang sudah ditakdirkan oleh semesta, dewa, atau ikatan magis bawaan lahir untuk bersama.Fantasy Romance, Paranormal
Face-SlappingTokoh utama yang terus-menerus diremehkan, dihina, atau ditindas pada akhirnya menunjukkan kekuatan/kekayaan aslinya secara spektakuler untuk “menampar” ego lawan-lawannya.Webnovel, Eastern Fantasy, Urban
Isekai (Another World)Tokoh utama secara fisik berpindah, terdampar, atau ditarik masuk ke dimensi/dunia lain (biasanya dunia fantasi atau magis) dari dunia nyatanya.Fantasy, Light Novel, Webnovel
TransmigrationJiwa tokoh utama berpindah dan mengambil alih tubuh orang lain (bisa tubuh tokoh dalam novel, tubuh leluhur di masa lalu, atau tubuh di semesta paralel).Webnovel, Romantasy, Historical
Regression (Time Reversal)Tokoh utama yang mati tragis atau gagal total tiba-tiba kembali ke masa lalu (ke tubuhnya sendiri saat masih muda) dengan ingatan utuh untuk mengubah takdir.Fantasy, Romantasy, Webnovel
VillainessTokoh utama menyadari dirinya bereinkarnasi atau bertransmigrasi ke dalam tubuh karakter jahat (villain) di sebuah cerita, lalu berusaha mati-matian mengubah alur agar terhindar dari bad ending (kematian).Romantasy, Otome Isekai, Webnovel
System / LevelingTokoh utama tiba-tiba memiliki sistem antarmuka layaknya game RPG di matanya, memberinya status, misi, dan keahlian di dunia nyata maupun dunia fantasi.Urban Fantasy, Sci-Fi, Webnovel
Chosen OneSeseorang (yang biasanya terlihat seperti orang biasa yang lemah) diramalkan sebagai satu-satunya penyelamat yang bisa mengalahkan kegelapan.Fantasy, Dystopian, Sci-Fi
Found FamilySekelompok karakter yang tidak memiliki ikatan darah, sama-sama terbuang, lalu bersatu dan saling menyayangi layaknya keluarga sejati.Fantasy, Sci-Fi, YA, Contemporary
Mentor DiesSosok guru atau pembimbing harus tewas di tengah cerita agar sang tokoh utama terdorong mandiri untuk menyelesaikan misinya.Fantasy, Action, Adventure
Secret Identity / Hidden HeirTokoh yang menyembunyikan identitas aslinya, kekuatan supernya, atau fakta bahwa ia adalah pewaris takhta/perusahaan raksasa.Romance, Superhero, Fantasy
Locked Room MysteryKejahatan mustahil yang terjadi di sebuah ruangan tertutup rapat dari dalam, tanpa akses keluar-masuk bagi si pelaku.Mystery, Thriller
Unreliable NarratorPencerita (PoV 1) yang kesaksian atau perspektifnya tidak bisa dipercaya oleh pembaca, entah karena ia berbohong, gila, atau manipulaif.Thriller, Psychological, Literary
AmnesiaKarakter kehilangan ingatannya, memaksa mereka menyusun ulang puzzle identitas mereka atau tanpa sengaja jatuh cinta lagi pada orang yang sama.Romance, Thriller, Mystery
Revenge QuestPerjalanan panjang berdarah-darah yang didorong murni oleh dendam kesumat.Fantasy, Thriller, Historical
Final GirlKarakter perempuan terakhir yang berhasil bertahan hidup dari pembantaian berantai/monster, lalu bangkit melawan dan mengalahkan ancaman tersebut.Horror, Thriller

Trope = Inciting Incident

Seperti yang sudah saya singgung tadi, ada saja penulis pemula yang menghindari trope karena takut ceritanya terasa klise. Padahal, trope bisa jadi motor penggerak plot yang sangat kuat.

Trope memudahkan penulis untuk menemukan inciting incident dalam sebuah cerita. Perlu diketahui, inciting incident artinya tindakan atau kejadian eksternal yang membuat tokoh utama kita keluar dari status quo. Penulis mungkin mengenal inciting incident dengan istilah lain seperti katalis atau bencana (disaster).  

Trope memuat bencana yang terjadi pada tokohmu. Misalnya, trope fake dating berarti inciting incident-mu adalah momen perjanjian pacaran palsu antara tokoh utama. Begitu juga dengan trope mentor dies yang banyak dipakai di Eastern Fantasy. Trope ini artinya inciting incident dari ceritamu adalah kemantian mentor dari si tokoh utama.  

Cara Mengidentifikasi Genre, Tag, dan Trope dari Cerita Novelmu

Satu aturan emas yang harus kamu ingat saat menuliskan kolom tag: setiap tag dipisahkan dengan koma dan harus selalu dimulai dengan Genre Utama terlebih dahulu. 

Ini membantu algoritma platform mengkategorikan novelmu ke rak besar yang tepat sebelum mengerucutkannya ke rak yang lebih spesifik.

Mari kita lihat beberapa contoh penulisan tag yang tepat untuk beberapa ide cerita.

Ide CeritaKombinasi Tag yang Tepat (Berurutan)
Kisah cinta anak kampus dengan adegan dewasa.Romance, new adult, campus romance, spicy
Penyihir yang hidup dan menyamar di Jakarta masa kini.Fantasy, urban fantasy, metropolitan
Detektif memecahkan pembunuhan di desa kecil dengan suasana ringan.Mystery, cozy mystery, small-town
Detektif memecahkan pembunuhan di desa kecil, tapi brutal dan berdarah.Mystery, dark mystery, gritty, small-town
Cerita cinta para bangsawan di era kolonial.Romance, historical romance, period romance
Remaja terpilih yang ditakdirkan menyelamatkan kerajaan sihir.Fantasy, YA fantasy, chosen one

Tutorial Mengidentifikasi Tag Novelmu

Jika masih bingung menentukan tag untuk novelmu, coba ikuti langkah-langkah ini:

  1. Tentukan Genre Utama. Tanyakan pada dirimu, apa janji terbesar dari cerita ini? (Contoh: Romance, Mystery, atau Fantasy). Tempatkan ini di urutan pertama.
  2. Pilih Subgenre. Apa versi lebih spesifik dari genremu? (Contoh: Urban fantasy, Historical romance).
  3. Tentukan Target Usia & Latar (Setting). Siapa target pembacamu dan di mana ceritanya terjadi? (Contoh: YA, Adult, Campus, Small-town).
  4. Tambahkan Tone & Heat Level. Bagaimana nuansa ceritamu saat dibaca dan seberapa eksplisit kontennya? (Contoh: Cozy, Dark, Gritty, Spicy).
  5. Masukkan Trope Utama. Pola dinamika atau konflik apa yang menjadi motor penggerak cerita dan daya tarik tokohmu? (Contoh: Enemies to lovers, Fake dating, Chosen one).
  6. Rangkai Menjadi Tag Lengkap. Gabungkan semua jawaban dari langkah 1 hingga 5, pisahkan dengan koma, dan masukkan ke kolom tag saat kamu memublikasikan cerita.

Batasan yang Melahirkan Kreativitas

Memberi tag yang sesuai dengan genre, subgenre, kategori, dan trope ceritamu adalah bagian penting dalam strategi pemasaran buku. Namun, lebih dari itu, batasan-batasan ini seharusnya tidak dipahami sebagai kekangan dalam berkarya. Sebaliknya, batasan justru membuat kita semakin kreatif.

Dalam buku Steal Like an Artist, Austin Kleon mengungkap bahwa batasan bisa menjadi katalis untuk mendorong kreativitas:

“Kreativitas yang sesungguhnya sering kali tidak pernah datang dari kebebasan yang tanpa batas, justru keterbatasan yang memaksa lahirnya inovasi dan orisinalitas.”

Austin Kleon

Senada dengan Kleon, sains pun membuktikan hal ini. Dilansir dari Verybigbrain, ketika kita dihadapkan pada sebuah batasan saat berkreasi, otak kita secara otomatis akan mengaktifkan dua jaringan sekaligus, yaitu Default Mode Network (DMN) yang bertugas menghasilkan imajinasi bebas, dan Executive Control Network (ECN) yang bertugas mengevaluasi masalah secara logis. Inovasi akan tercipta ketika kedua sistem ini dipaksa berkomunikasi satu sama lain akibat adanya batasan tersebut.

Oleh karena itu, kamu tidak perlu takut pada batasan aturan yang datang dari genre, tag, dan trope. Malahan, sebagai penulis, kamu bisa berkreasi dengan memadupadankan elemen-elemen tersebut untuk melahirkan karya baru yang terasa fresh dan unik, sekaligus memiliki audiens, target market, serta potensi penjualan yang jelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daftar Isi