Site icon Tika Widya

Cara Mendapatkan Sertifikat Proofreading Jurnal

Cara Mendapatkan Sertifikat Proofreading Jurnal

Cara Mendapatkan Sertifikat Proofreading Jurnal

Kalau ditanya, momen paling menegangkan selama saya kuliah S2 itu bukan pas sidang proposal, bukan juga pas presentasi di depan penguji. Namun juga pas nunggu email dari editor jurnal. 

Rasanya kayak nunggu hasil quick count pilkada, deg-degan tapi nggak bisa ngapa-ngapain selain refresh inbox tiap lima menit. Nah, salah satu momen paling absurd yang pernah saya alami justru datang dari situ, dari sebuah email singkat yang bikin saya mendadak lemas di depan laptop.

Notifikasi Email yang Bikin Jantung Copot

Saya masih ingat betul, saat itu malam Minggu, saya lagi rebahan sambil scroll TikTok, tiba-tiba HP bergetar. Notifikasi email masuk. Dari nama pengirimnya saja saya sudah tahu, ini dari sistem OJS jurnal yang saya tuju, jurnal internasional kategori Q1 yang topiknya nyambung banget sama riset saya yaitu topik Kimia. Saya buru-buru buka, berharap ada kabar baik semacam:

“Your manuscript has been accepted for review.”

Ternyata bukan itu isinya. Editor menuliskan, kurang lebih intinya begini: naskah saya menarik dan sesuai dengan ruang lingkup jurnal, tapi sebelum masuk proses review lebih lanjut, saya diminta melampirkan bukti bahwa naskah sudah melalui proofreading oleh pihak profesional, dalam bentuk certificate of proofreading

Saya baca ulang tiga kali, mikir jangan-jangan saya salah paham bahasa Inggrisnya. Tapi nggak, memang itu isinya. Sebenarnya saya tahu apa itu proofreading, tapi sertifikat proofreading itu saya nggak tahu. Saya cuma bisa mangap di kasur, HP masih nempel di tangan, sambil mikir, “Lah, ini apalagi?”

“Certificate of Proofreading”: Kata yang Awalnya Bikin Saya Googling Panik

Jujur saja, sebagai mahasiswa yang selama ini proofreading sendiri pakai campuran Grammarly, tanya senior, sama modal nekat, saya nggak pernah kepikiran kalau proofreading itu bisa dan harus dibuktikan secara formal. Selama ini saya pikir yang penting bahasanya sudah rapi, kalimatnya jelas, typo minim, ya selesai urusan. Ternyata nggak sesederhana itu buat jurnal kelas atas.s

Malam itu juga saya langsung buka laptop, ketik di kolom pencarian: “certificate of proofreading itu apa”, “kenapa jurnal minta sertifikat proofreading”, sampai contoh certificate of proofreading”. Saya baca satu-satu forum, grup Facebook mahasiswa pascasarjana, sampai thread di X yang isinya keluhan senasib. 

Ternyata memang banyak juga yang mengalami hal serupa, terutama yang submit ke jurnal terbitan penerbit besar dari Eropa. Rasanya lega sedikit, setidaknya saya nggak sendirian, tapi PR-nya tetap sama besar: saya harus dapat sertifikat itu, dan harus cepat.

Kenapa Sih Jurnal Segitunya Minta Sertifikat?

Setelah muter-muter baca, saya jadi paham logikanya. Sertifikat proofreading itu semacam jaminan tertulis dari pihak ketiga yang independen, bahwa naskah kita sudah dicek dari sisi tata bahasa, ejaan, struktur kalimat, dan gaya penulisan akademik, sebelum masuk ke meja reviewer. Biasanya sertifikat ini punya kop resmi dari penyedia jasa, nomor registrasi unik.

Alasan jurnal meminta ini sebenarnya masuk akal kalau dipikir-pikir. Reviewer mereka tersebar di berbagai negara, waktu mereka terbatas, dan mereka nggak mau energi habis cuma untuk membenahi grammar penulis. 

Mereka maunya langsung fokus menilai substansi, metodologi, dan kontribusi keilmuan. Jadi sertifikat ini semacam “tiket masuk” biar naskah kita dianggap sudah siap secara bahasa. Masalahnya, saya nggak tahu harus cari sertifikat semacam itu ke mana.

Muter-Muter Kayak Setrikaan, Cari Jasa yang “Beneran”

Esok paginya saya mulai perang sungguhan. Saya buka puluhan tab browser, dari jasa proofreading lokal, jasa dari luar negeri, sampai freelancer perorangan yang saya temukan lewat marketplace jasa online. Beberapa saya hubungi satu per satu, tanya baik-baik, “Kak, kalau proofreading di sini nanti dapat sertifikat resmi nggak?”

Jawabannya macam-macam, dan kebanyakan bikin saya makin pusing. Ada yang jawab, “Bisa kak, tapi itu jasa terpisah ya, ada biaya tambahan.” Ada yang terang-terangan bilang, “Kalau sertifikat kami belum sediakan, biasanya klien bikin surat pernyataan sendiri.” Lah, kalau bikin surat pernyataan sendiri, ya sama saja bohong, editor jelas minta bukti dari pihak profesional, bukan pengakuan dari penulis sendiri.

Ada juga yang bisa kasih sertifikat, tapi setelah saya lihat contohnya, formatnya cuma tulisan Times New Roman di kertas putih polos, tanpa kop resmi, tanpa nomor registrasi, apalagi tanda tangan yang bisa dicek keasliannya. Rasanya kalau saya lampirkan itu ke editor jurnal Q1, bukannya lolos, saya malah takut dicurigai bikin sertifikat abal-abal sendiri.

Belum lagi soal harga. Ada penyedia jasa dari luar negeri yang menawarkan proofreading plus sertifikat, tapi angkanya bikin saya menghela napas panjang, di atas lima juta rupiah untuk satu naskah. Padahal saya cuma butuh sertifikatnya, bukan proofreading dari nol, karena naskah saya sudah pernah dicek sebelumnya. Sempat kepikiran juga untuk pasrah saja, terima naskah saya ditolak duluan sebelum sempat direview, gara-gara nggak punya dokumen administratif yang diminta.

Titik Balik: Nama Mas Huda Muncul Tiba-Tiba Muncul

Di titik paling frustrasi itulah, saya coba curhat di grup WhatsApp alumni magister kampus saya, isinya campuran mahasiswa aktif dan yang sudah lulus. Saya ketik panjang lebar keluhan saya, lengkap dengan emoji nangis di akhir kalimat. Nggak lama, salah satu senior membalas, “Coba hubungi Tim MasHuda deh, aku kemarin juga pakai buat submission ke jurnal Q2, dapat sertifikatnya juga kok.” Saya juga cari di Google jasa proofreading bersertifikat, ternyata benar Mas Huda melayani Proofreading berseertifikat dan bahkan copy editing, bahkan ada paket Native English Proofreading khusus untuk jurnal.

Saya langsung screenshot nomor kontaknya, nggak pakai lama saya chat malam itu juga. Responsnya cepat, ramah, dan yang paling penting, mereka nggak asal iya-iya dan “sangat personal”, istilahnya bersahabat gitu lah. Saya dijelaskan dulu step by step, apa yang saya butuhkan, naskah saya seperti apa kondisinya sekarang, sampai target waktu submission saya kapan. Rasanya seperti curhat sama teman yang paham betul dunia perjurnalan, bukan sekadar admin jualan jasa.

PT Proofy Aksara Cendekia: Ternyata Bukan Jasa Kaleng-Kaleng

Yang bikin saya makin percaya, ternyata Tim Mas Huda ini bernaung di bawah badan usaha resmi bernama PT Proofy Aksara Cendekia (cari saja di Google). Jadi bukan sekadar akun media sosial atau nomor WhatsApp pribadi tanpa kejelasan. Ada nama perusahaan yang bisa dicek, ada legalitas di baliknya. Buat saya yang sempat trauma sama jasa abal-abal sebelumnya, ini poin penting banget.

Saya tanya langsung waktu itu, “Kak, kalau sertifikatnya nanti benar-benar bisa dipakai untuk submission jurnal Q1 kan ya? Soalnya editor saya strict banget.” Dijawab dengan tenang: 

“Bisa kak, sertifikat kami diterbitkan oleh PT Proofy Aksara Cendekia, ada nomor registrasi, tanda tangan digital, QR-pengaman, dan bisa diverifikasi secara resmi lewat platgorm kami oleh editorial jurnal, banyak juga klien kami yang pakai untuk jurnal bereputasi.” 

Dan tahu nggak, ternyata langsung dikirim contoh sertifikat dan halaman perusahaan PT Proofy Aksara untuk bisa saya lihat-lihat sendiri. Nggak ada paksaan, nggak ada melebih-lebihkan, bener-bener saya disuruh menilai sendiri dan memutuskan pesan atau nggak. Dari situ saya mulai merasa nemu jalan keluar yang bener-bener solid, bukan janji manis doang.

Detik-Detik Prosesnya, Saya Ceritain Sedetail Mungkin

Prosesnya dimulai dari saya mengirim naskah lengkap lewat WhatsApp, disertai informasi jurnal tujuan dan gaya bahasa yang diminta editor (waktu itu British English). Tim Mas Huda menjelaskan dengan rinci, karena naskah saya sudah pernah diproofreading sebelumnya, mereka akan melakukan pengecekan ulang menyeluruh dulu sebelum menerbitkan sertifikat, supaya sertifikatnya benar-benar mencerminkan kondisi naskah terbaru, bukan asal cap saja.

Saat itu, saya pesan paket Basic Native. Kalau nggak salah harganya Rp250/kata. Ada juga yang sebenarnya yang professional Native yang ada substantive editingnya, tapi harganya Rp350/kata. Budget saya kurang. Yang jelas saya pesan yang Native, dan Mas Huda ternyata punya Tim Native English dari USA dan UK. 

Selama proses berjalan, saya dikabari perkembangannya, saya tanya juga langsung dijawab, jadi nggak seperti kirim naskah lalu menghilang tanpa kabar. Ini poin yang bikin tenang. Setelah selesai, saya menerima beberapa file sekaligus: naskah versi bersih hasil pengecekan, naskah versi tracking supaya saya tahu detail perubahan yang dilakukan, dan yang paling saya tunggu-tunggu, sertifikat proofreading resmi dari PT Proofy Aksara Cendekia.

Begitu saya buka file sertifikatnya, saya langsung merasa tenang. Formatnya rapi, ada kop resmi perusahaan, nomor sertifikat unik, nama penanggungjawab, tanggal penerbitan, sampai barcode untuk verifikasi (bener-bener bisa di verifikasi di website resminya). Jauh banget bedanya dibanding contoh-contoh sertifikat asal jadi yang sempat saya temukan sebelumnya. Semua dokumen juga dibackup di drive yang hanya saya saja yang tahu, jadi kalau suatu saat saya butuh submission ke jurnal lain, saya nggak perlu mengulang proses dari nol.

Kirim Ulang ke Editor, Terus Deg-degan Lagi

Malam itu juga, tanpa buang waktu, saya balas email editor jurnal dan melampirkan sertifikat proofreading dari PT Proofy Aksara Cendekia. Rasanya campur aduk, antara lega karena akhirnya bisa memenuhi permintaan administrasi, tapi juga was-was, takut-takut ada yang kurang atau formatnya nggak sesuai standar mereka.

Beberapa hari berikutnya saya jadi rajin banget cek email, bahkan sampai bangun tengah malam cuma buat cek notifikasi. Sampai akhirnya, balasan datang. Editor mengonfirmasi bahwa naskah saya sudah memenuhi syarat administrasi dan resmi masuk ke tahap review. Nggak ada lagi pertanyaan soal proofreading, nggak ada lagi keraguan soal bahasa. Satu ganjalan besar yang tadinya bikin submission saya nyaris mandek, akhirnya lewat juga.

Setelah Semua Drama Ini Selesai

Sekarang naskah saya masih dalam proses review, dan seperti biasa, jurnal Q1 tetap saja punya standar tinggi, revisi demi revisi masih akan datang. Tapi setidaknya, urusan sertifikat proofreading sudah beres dan nggak lagi jadi beban pikiran setiap malam. Dari pengalaman ini, saya jadi paham bahwa proofreading dan sertifikat proofreading itu dua hal yang berbeda, dan keduanya sama-sama penting dipersiapkan sejak awal, bukan pas mepet deadline seperti yang saya alami.

Buat kalian yang mungkin sekarang lagi ada di posisi saya, submission tertahan gara-gara diminta bukti proofreading resmi, saran saya satu: jangan asal pilih jasa. Cari yang jelas badan usahanya, jelas legalitasnya, dan sertifikatnya bisa diverifikasi. Dari pengalaman pribadi, Tim MasHuda di bawah PT Proofy Aksara Cendekia cukup membantu saya melewati momen paling panik dalam proses submission jurnal. Buka halaman resmi Tim MasHuda: Mashuda.id

 Semoga cerita panjang ini bermanfaat, dan semoga kalian yang sedang berjuang dengan sertifikat proofreading bisa segera lolos tahap administrasi, lanjut ke review, dan akhirnya accepted!(ADV)

Exit mobile version