Setting Cerita: Definisi, Tipe dan 5 Elemen Setting dalam Cerita FiksiSetting Cerita: Definisi, Tipe dan 5 Elemen Setting dalam Cerita Fiksi

Kita mengenal setting cerita dengan istilah latar dalam unsur-unsur karya sastra yang mungkin sudah kamu pelajari dalam materi Bahasa Indonesia di sekolah. Namun, ada perbedaan penggunaan ketika kamu sudah mengambil posisi sebagai seorang penulis. 

Setting atau latar cerita bukan lagi sesuatu yang bisa ditulis sebatas nama tempat, waktu dan suasana. Terlebih lagi, seorang penulis harus bijaksana dalam memilih setting yang tepat untuk menceritakan kisahnya. 

Dalam postingan kali ini, sahabat menulis favorit kamu akan membahas soal: 

  • Apa itu setting cerita?
  • 3 tipe setting cerita
  • 5 elemen dalam setting cerita fiksi
  • Fungsi setting cerita
  • Tips dalam memilih setting ceritamu

Semua informasi di sini sudah disesuaikan dengan kebutuhan penulisan. Kamu juga bisa menyimaknya dalam rekaman Webinar Menulis Gratis Tika Widya April 2023: Setting Cerita dan Worldbuilding. Semoga bermanfaat dalam proses kreatifmu, writers! 

Apa itu Setting Cerita?

Setting cerita adalah di mana, kapan dan bagaimana suasana saat cerita itu terjadi. Pada dasarnya, setting cerita bisa berlokasi di tempat nyata, seperti kota atau pulau. Namun, kamu juga bisa membuat dunia imajiner sendiri untuk cerita unikmu. 

Definisi Setting Cerita atau Latar Cerita: 

KBBI: Latar cerita adalah keterangan waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan di dalam sebuah karya sastra.

Mido (2016): Latar cerita adalah gambaran tentang tempat, waktu, dan situasi terjadinya peristiwa.

Aminuddin (2013): Latar cerita adalah berupa tempat, waktu, maupun peristiwa.

Setting seperti latar belakang cerita dapat memengaruhi bagaimana atmosfernya. Misalnya, cerita romantis mungkin berlatar di kota kecil dan nyaman sedangkan cerita seram mungkin berlatar di tempat yang terpencil seperti kastil atau kabin di hutan. Latar bisa menjadi sangat penting karena akan mendefinisikan gaya bercerita juga.

3 Tipe Setting Cerita

3 tipe setting cerita

Ada tiga tipe setting yang ada dalam sebuah cerita. Penulis bisa menggunakannya ketiganya saat menceritakan kisahnya. 

  1. Temporal setting – Setting waktu. Misalnya: tahun 90an atau tahun 2067 (jika cerita berlangsung di masa depan).
  2. Environmental setting – Setting tempat atau lingkungan terjadinya cerita. Misalnya: di area perumahan mewah Jakarta, di gedung bertingkat, dan lain sebagainya. 
  3. Individual setting – Setting lokasi terkait dengan tokoh. Misalnya: kamar Arya, rumah Dono, Sekolah Abdi, dan lain sebagainya. 

Perhatikan! 

Setting individual biasanya merupakan produk dari imajinasi penulis. Namun, penulis sering membangun setting individual dari referensi tempat yang nyata. Tujuannya adalah supaya pembaca masih bisa mendapatkan nuansa situasi yang otentik meskipun detail dari setting-nya sendiri berasal dari imajinasi. 

5 Elemen Setting Cerita dalam Karya Fiksi

5 elemen setting cerita

Dalam penulisan fiksi, setting cerita mengacu pada waktu, tempat dan suasana di mana sebuah cerita terjadi. Namun, menciptakan setting cerita yang hidup dan imersif melibatkan beberapa elemen kunci, termasuk:

  1. Lokasi geografis: Cerita dapat berlatar di tempat dunia nyata atau imajiner. Either way, lokasi memainkan peran penting dalam membentuk suasana cerita dan karakter. Contoh: Tolkien membangun middle earth untuk setting cerita The Lord of The Rings. 
  2. Lokasi fisik: Lingkungan sekitar karakter, seperti kamar, ruangan, dan rumah, juga penting dalam menciptakan latar. Elemen ini dapat memengaruhi suasana serta memberikan konteks penting bagi pembaca. Contoh: Rumah Elektra dalam Supernova: Petir karya Dee Lestari digunakan untuk menunjukkan kehidupan Elektra. 
  3. Lingkungan fisik: Alam, termasuk cuaca, iklim, dan kekuatan alam lainnya, juga dapat memainkan peran penting dalam latar cerita. Faktor-faktor ini dapat memengaruhi karakter dan berkontribusi pada nuansa cerita secara keseluruhan. Contoh: Michael Crichton membangun latar suasana hutan tropis dalam Jurassic Park untuk menunjukkan kedekatan ceritanya dengan alam. 
  4. Periode waktu: Periode waktu sebuah cerita dapat berupa era sejarah atau musim tertentu, waktu, atau tahun. Elemen ini memberikan konteks untuk tindakan karakter dan mengatur tone cerita. Contoh: YB Mangunwijaya menggunakan latar periode sejarah kemerdekaan Indonesia dalam novel Burung-burung Manyar. 
  5. Lingkungan sosial dan budaya: Norma sosial dan budaya dari latar juga penting dalam membentuk cerita. Bergantung pada lokasi dan periode waktu, mungkin kamu bisa menulis tentang tradisi dan tren masyarakat tertentu yang memengaruhi tindakan dan hubungan karakter. Contoh: Umar Kayam menghadirkan latar sosial buruh tani dan priyayi dalam novelnya yang berjudul Para Priyayi. 
BACA JUGA:   Jumlah Kata Tulisan Fiksi dan Jenisnya

Fungsi Setting Cerita

Banyak penulis yang sering mengesampingkan pemilihan setting cerita. Padahal, setting juga memiliki banyak fungsi, termasuk membuat cerita kita lebih efektif dicerna oleh pembaca. 

1. Setting Membuat Audiens Terlibat

Setting cerita yang dibangun dengan baik membantu audiens memahami suasana dan mood dalam sebuah scene atau adegan ceritamu. Selain itu, setting juga akan memberi pengaruh pada tone ceritamu. 

Contohnya: 

  • Setting yang gelap dan mencekam membuat pembaca merasa tegang.
  • Setting yang cerah dan terang membuat pembaca merasa bahagia. 

2. Setting Memberikan Konteks

Setting juga bisa bikin tindakan tokohmu terasa lebih believable, relatable, dan nyata. Dengan membangun lingkungan untuk seorang tokoh, pembaca akan lebih mengerti pola pikir dan cara pengambilan keputusannya. 

Contohnya: 

Jika tokoh tinggal di setting lingkungan yang miskin dan serba kekurangan, pembaca akan memahami mengapa si tokoh kemudian mencuri sesuatu dari orang lain.

3. Setting Membangun Konflik 

Setting yang tepat bisa menghadirkan halangan maupun kesempatan bagi tokoh-tokoh dalam cerita. 

Contohnya: 

Sebuah cerita yang bersetting di dunia pasca kiamat dapat menghadirkan konflik antara tokoh-tokoh yang harus berebut sumber daya untuk bertahan hidup.

4. Setting Mengatur Ekspektasi Pembaca

Setting bisa langsung memberitahu pembaca mengenai genre dan style cerita yang kamu pilih. Ini membantumu mengatur ekspektasi pembaca terhadap cerita yang sedang kamu tulis.

Contohnya: 

Cerita yang bersetting di sebuah kastil (lengkap dengan prajurit dan naga), akan langsung membuat pembaca paham bahwa genre kamu adalah fantasi.

5. Setting Merupakan Bentuk Eksposisi

Setting bisa membantumu mengekspos karakteristik tokoh maupun latar belakang mereka tanpa susah payah menjelaskannya kepada pembaca. Kamu bisa menggunakannya untuk show don’t tell

BACA JUGA:   8 Cara Menulis Detail Setting Cerita Lengkap dengan PDF Template

Contohnya: 

Tokoh yang tinggal di rumah megah membuat audiens langsung menyimpulkan bahwa ia datang dari keluarga kaya.

3 Contoh Setting Cerita dalam Karya Fiksi

Penulis biasanya memilih setting cerita yang sesuai dengan tokoh maupun plot cerita. Berikut ini adalah tiga contoh setting cerita dalam karya fiksi: 

1. School of Good and Evil karya Soman Chainani menceritakan dua gadis yang terjebak di pertarungan sihir antara dua sekolah sihir. Di dalam cerita ini, kamu akan menemukan perbedaan antara kastil School of Good dan School of Evil yang membedakan karakteristik keduanya. 

2. Rara Mendut karya YB Mangunwijaya merupakan sebuah kisah seorang putri yang disebutkan di Babad Tanah Jawi. Di sini, kamu akan menemukan setting keraton lengkap dengan upacara-upacara serta berbagai aturan yang mengikat. 

3. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengungkap setting ceritanya di kalimat awal yang membuka naskah drama tersebut. “In fair Verona, where we lay our scene.” Kalimat ini menerangkan bahwa tragedi ini berlokasi di Verona, Italia. 

6 Tips Memilih Setting Cerita untuk Karyamu

Dalam penulisan kreatif, penulis menggunakan setting untuk menciptakan konteks, mengembangkan karakter dan membangun konflik. Ini adalah enam tips yang bisa kamu praktikkan untuk memilih setting yang tepat dalam ceritamu: 

1. Mengatur Setting Cerita

Saya percaya bahwa setiap cerita harusnya dapat menunjukkan keunikan dari penulisnya. Oleh karena itu, kamu bisa menggunakan dua peran setting berikut ini demi menjadikan ceritamu lebih spesial: 

  • Integral Setting – tempat/waktu/suasana tertentu yang memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Integral setting mencakup elemen sosial seperti bahasa, pakaian dan alat transportasi yang digunakan tokoh.
  • Backdrop Setting – setting yang bersifat umum, misalnya sebuah kota kecil tanpa nama maupun waktu yang spesifik. 

Kedua pengaturan setting cerita ini bisa kamu gabungkan untuk akhirnya membuat sebuah dunia fiksi yang utuh dan sesuai dengan kisahmu. 

2. Sesuaikan Setting dengan Ide

Saat mengembangkan ide cerita, tentukan apakah ceritamu terjadi di dunia nyata atau imajiner. 

Jika kamu sedang menulis novel tentang rumah tangga kelas menengah, maka memilih setting sebuah kota besar di Jawa merupakan pilihan tepat. Namun, jika kamu ingin menulis fiksi ilmiah atau fantasi, maka kamu mungkin butuh membangun dunia imajiner dengan worldbuilding.  

3. Temukan Setting untuk Meningkatkan Tangga Dramatis

Cerita yang bagus akan memiliki latar yang melengkapi plotnya. Dalam artian, setting cerita seharusnya mendukung perkembangan konflik dan ketegangan cerita.

Dengan demikian, kamu harus bijak mempertimbangkan mana setting cerita yang tepat. Tentukan lokasi mana yang bisa meningkatkan drama pada setiap poin pada alur cerita.  

4. Pilih Setting yang Mendukung Penokohan

Kamu mungkin menulis banyak cerita dengan POV yang berbeda-beda. Namun, pembaca tetap akan melihat setting cerita melalui pengalaman tokoh-tokohmu.  Setting cerita yang ideal seharusnya dapat: 

  • Meningkatkan motivasi dan tujuan tokoh
  • Menyediakan konteks untuk pencarian solusi para tokoh
  • Memberikan alasan atas tindakan mereka
  • Memberikan tambahan konflik atau halangan bagi si tokoh  
BACA JUGA:   Pengertian Copywriting dan Siapa Penggunanya

Jadi, saat kamu mulai menulis, visualisasikan cerita di berbagai tempat dan periode untuk melihat mana yang paling mendukung pengembangan karakter.

5. Riset Setting Cerita Kamu

Untuk membuat setting cerita yang hidup dan realistis, kamu perlu melakukan riset. Ini tips riset setting cerita:  

  • Jika kamu sedang menulis sebuah karya fiksi sejarah yang berlatar Perang Kemerdekaan Indonesia, gunakan sumber tulisan untuk mengetahui seperti apa negara kita saat itu. Ini akan membantumu menggambarkan peristiwa plot secara akurat. 
  • Selanjutnya, gunakan Google untuk mencari gambar lokasi. Kamu juga sudah bisa melihat apa yang ada di sekitar lokasi dengan menggunakan 360 view. 
  • Jika memungkinkan, kunjungi lokasi dan berjalan-jalanlah di sana untuk mendapatkan pengalaman indrawi yang lengkap. 

6. Buat Detail Setting dengan Template

Kamu bisa menggunakan template worldbuilding ini untuk kebutuhan penulisan. Template ini mencakup semua genre dan jenis cerita termasuk: romance, thriller, horor, science fiction, fantasi dan lain sebagainya.  Isi form di bawah ini untuk mengunduh PDF Template Worldbuilding Tika Widya untuk semua genre!

[wpforms id=”9913″ title=”false”]

Pertanyaan-pertanyaan Umum Soal Setting Cerita

1. Apa saja setting dalam cerpen?

Sama seperti karya prosa lainnya, cerpen juga juga bisa memuat tiga jenis setting, yaitu: temporal setting (latar waktu), environmental setting (latar tempat), individual setting (latar lokasi terkait tokoh). 

2. Apa fungsi setting dalam cerita?

Fungsi setting dalam sebuah cerita adalah: 
– Membuat audiens terlibat dengan mengatur mood dan atmosfer adegan.
– Memberikan konteks akan tindakan yang diambil tokoh dalam cerita.
– Bisa menghadirkan konflik dalam alur cerita.
– Mengatur ekspektasi pembaca akan genre atau style penulis. 
– Mengekspos latar belakang tokoh dengan mudah.

3. Apa itu unsur setting?

Unsur setting cerita fiksi meliputi lokasi geografis, lokasi fisik, lingkungan fisik, periode waktu, serta lingkungan sosial dan budaya. 

4. Apa itu setting dalam prosa?

Setting cerita dalam prosa adalah di mana, kapan dan seperti apa suasana saat rangkaian peristiwa dalam prosa berlangsung.

5. Apa perbedaan setting cerita dan latar cerita?

Setting cerita dan latar cerita itu sama dan tidak ada bedanya. Keduanya mencakup di mana, kapan dan seperti apa suasana cerita.

6. Bagaimana cara menuliskan detail setting cerita?

Kamu dapat melakukannya dengan mengikuti cara menulis setting cerita berikut ini: 
– Pertama, pilih setting untuk ceritamu. 
– Pastikan setting sudah menambahkan value pada ceritamu. 
– Selanjutnya, gunakan teknik lima panca indera saat menulis cerita. 
– Kemudian, pastikan tokoh memiliki hubungan dengan setting cerita. 
– Namun, jangan memberikan terlalu banyak detail setting dalam narasi cerita. 

7. Bagaimana cara membuat setting cerita di dunia fantasi?

Kamu bisa membangun dunia fantasi sendiri asal sudah memahami langkah-langkah worldbuilding. Pada dasarnya, worldbuilding membantu kamu menghadirkan dunia fiktif yang terasa nyata dan punya cara kerja yang unik serta berbeda dari dunia kita.

8. Bagaimana cara berlatih menulis dengan menggunakan setting?

Ada banyak latihan menulis setting cerita yang bisa kamu lakukan secara berkala untuk membantu melancarkan proses pengkaryaan. Salah satunya adalah mencoba menulis deskripsi situasi di sekitarmu setiap hari.

Sudah Itu Saja?

Yap! Setting cerita sering dilupakan oleh penulis. Padahal, tulisan yang bagus (dan best seller) hampir selalu menggunakan eksplorasi setting sebagai elemen pentingnya. Nah, jangan lengah dan terlena, writers! Coba gali setting ceritamu mulai dari sekarang! 

By Tika Widya

Tika Widya C.DMP adalah seorang penulis yang sudah menekuni industri kreatif secara profesional sejak tahun 2018. Ia telah menjadi content writer, copywriter dan creative writer pada lebih dari 914+ proyek penulisan skala nasional dan internasional. Pada tahun 2024, ia berhasil menjadi satu-satunya penulis Indonesia yang masuk daftar Emerging Writer Australia-Asia. Kini, Tika Widya mengajar menulis lewat Tikawidya.com, Tempo Institute dan Kelas Bersama. Ia juga membentuk Komunitas Belajar Nulis yang aktif mengawal 1800+ penulis dari seluruh Indonesia untuk terus berkarya dan menyemarakkan industri literasi nusantara.

3 thoughts on “Setting Cerita: Definisi, Tipe, dan Elemen dalam Fiksi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *