Cara Menulis Cerpen Religi, Praktis dengan Contoh
Cerpen

Cara Menulis Cerpen Religi, Praktis dengan Contoh

Gimana rasanya punya cerita religi yang menggugah hati tapi tersimpan rapat di benak saja? Ini saatnya kamu belajar cara menulis cerpen religi agar bisa menuangkannya ke dalam kata-kata. 

Apalagi, kita sedang menyambut bulan Ramadan 2024, di mana banyak kompetisi penulisan cerpen religi bermunculan.

Bulan penuh berkah ini bisa jadi momen sempurna buat kamu yang ingin berbagi cerpen religi inspiratif dan mendalam lewat tulisan. 

Di sini, kamu berkesempatan untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan terdalammu sekaligus berkontribusi positif dalam memperkaya khazanah literatur religi.

Tapi, tunggu dulu, mungkin kamu bertanya-tanya, “Bagaimana caranya aku bisa menulis cerpen yang baik? Bagaimana caranya agar ceritaku bisa diterima dan mungkin menang di salah satu kompetisi itu?” 

Nah, inilah saatnya kamu mengubah rasa frustasi itu menjadi aksi.

1. Memilih Tema Terlebih Dahulu

Langkah pertama adalah memilih tema. Tema adalah fondasi dari cerpenmu. Kamu bisa mengambil tema dari ajaran agama, dilema moral, atau bahkan kisah inspiratif yang kamu alami sendiri. 

Misalnya, tema tentang “kedekatan dengan agama” bisa menjadi dasar yang kuat untuk cerpen religi. Tema ini mengeksplorasi bagaimana tokoh merasa dekat dengan agama dalam hidupnya.

2. Buat Premis Cerita

Setelah menentukan tema, bangun premis cerita. Premis adalah ide dasar ceritamu. Premis cerita biasanya terdiri dari tiga elemen: tokoh utama, tujuan, dan halangan. Namun, kamu juga bisa menambahkan resolusi atau akhir cerita jika sudah ada. 

Nah, biar lebih jelas, aku sudah membuat tabel langkah membuat premis dan contoh penerapannya dalam cerpen religi. Coba cek ini dulu! 

LangkahDeskripsiContoh
Tentukan Siapa Tokoh UtamaPikirkan karakter utama ceritamu.Farhan, seorang remaja sekolah menengah.
Putuskan Apa Tujuan Si Tokoh UtamaTentukan apa yang ingin dicapai oleh tokoh utamamu.Farhan ingin merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan agamanya di bulan Ramadan.
Tambahkan HalangannyaTentukan rintangan apa yang akan dihadapi tokoh utama dalam mencapai tujuannya.Farhan kesulitan menemukan waktu untuk ibadah karena jadwal sekolah dan les yang padat.
Berikan Resolusi atau EndingnyaPikirkan bagaimana cerita ini akan berakhir.Dengan bantuan dari Pak Arif, seorang guru, Farhan menemukan cara mengatur waktunya lebih baik sehingga bisa beribadah sekaligus belajar dengan lebih baik. 

Dari tabel di atas, kita akhirnya bisa membuat contoh premis cerita untuk cerpen religi, yaitu: 

Farhan, seorang remaja sekolah menengah, ingin merasa dekat dengan agamanya di Bulan Ramadan. Namun, ia kesulitan menemukan waktu untuk beribadah karena jadwal sekolah dan les yang padat. Dengan bantuan Pak Arif, gurunya, Farhan belajar manajemen waktu sehingga bisa beribadah sekaligus belajar dengan baik. 

Jadi deh premisnya! Cukup mudah, kan? 

Catatan Penting: Kamu tidak harus langsung memutuskan akhir cerita saat sedang membuat premis. Kalau kamu belum yakin dengan endong ceritamu, kamu cukup membuat premis dari tokoh, tujuan tokoh dan halangannya saja. 

Jika menggunakan tabel di atas, premis tanpa ending akan tampak seperti ini: 

Farhan, seorang remaja sekolah menengah, ingin merasa dekat dengan agamanya di Bulan Ramadan. Namun, ia kesulitan menemukan waktu untuk beribadah karena jadwal sekolah dan les yang padat. 

Meski tanpa ending, penulis masih bisa kok melihat inti ceritanya dan akhirnya memutuskan akhir cerita setelah mempertimbangkannya selama proses penulisan. 

3. Penokohan

Tokoh adalah jantung dari ceritamu. Jadi, penokohan itu harus relatable dan multidimensional. 

Untuk cerpen religi, kamu harusnya menunjukkan perjalanan spiritual atau emosional karakter. 

Misalnya, tokoh utamamu bisa seorang yang awalnya keras kepala dan egois, tapi perlahan belajar memahami dan menerapkan nilai pengampunan dalam hidupnya.

Untuk membuat tokoh dalam cerpen religi terasa lebih hidup kamu harus tahu dulu detail tokohmu seperti apa. 

Contoh detail tokoh sederhana untuk cerpen religi

AspekDetail
NamaFarhan
Umur17 tahun
Latar BelakangRemaja sekolah menengah yang aktif dan memiliki banyak kegiatan
KepribadianPenuh semangat, rajin, namun merasa ada yang kurang dalam kehidupan spiritualnya
Kegiatan RutinSekolah, les tambahan, kegiatan ekstrakurikuler
Masalah UtamaKesulitan menemukan waktu untuk ibadah dan merasa kehilangan arah spiritual
TujuanIngin merasakan kedekatan yang lebih dalam dengan agamanya di bulan Ramadan
Pengembangan KarakterBelajar menyeimbangkan antara kehidupan sekolah dan kegiatan spiritual, serta menemukan makna ibadah yang sebenarnya

Tabel ini memberikan gambaran tentang Farhan, tokoh utama cerpen religi kita, mulai dari latar belakangnya hingga tujuan dan pengembangan karakternya dalam cerita. 

Ini membantu kita sebagai penulis untuk lebih mendalami karakter dan membangun cerita yang kohesif dan menarik.

4. Mengembangkan Alur Cerita dengan Struktur 7-Point

skema struktur 7-point
skema struktur 7-point

Gunakan struktur 7-Point untuk mengembangkan alur ceritamu. Ini melibatkan: Hook, Plot Turn 1, Pinch 1, Midpoint, Pinch 2, Plot Turn 2, dan Resolution. 

PointDeskripsi
Hook (awal)Farhan merenungkan keinginannya untuk lebih dekat dengan agamanya di bulan Ramadan, merasa kehilangan di tengah kesibukan.
Plot Turn 1Farhan menerima tugas dari Pak Arif yang menantangnya untuk menemukan waktu untuk beribadah dalam jadwalnya yang padat.
Pinch 1Farhan berjuang keras menjaga keseimbangan antara sekolah, les, dan ibadah, merasa kewalahan.
MidpointDalam pembicaraan mendalam, Pak Arif memberikan nasihat tentang manajemen waktu dan prioritas, memberi Farhan perspektif baru.
Pinch 2Ketika mencoba menerapkan saran Pak Arif, Farhan mengalami beberapa kegagalan dan frustrasi, meragukan kemampuannya.
Plot Turn 2Farhan menemukan metode yang bekerja bagi dirinya sendiri, secara bertahap menemukan keseimbangan antara kehidupan sekolah dan spiritual.
Resolution (akhir)Farhan merasakan kedekatan dengan agamanya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, merasa bersyukur dan damai.

Struktur 7-point ini membantu dalam membangun alur cerita yang logis dan menarik, dimulai dari pengenalan konflik, menghadapi tantangan, hingga menemukan solusi dan penyelesaian. 

Ini memberikan panduan yang jelas bagi penulis untuk mengembangkan cerita yang kohesif dan memuaskan bagi pembaca. ​

5. Pilih POV (Point of View)

Menentukan sudut pandang cerita adalah kunci. Apakah kamu akan menceritakan dari sudut pandang orang pertama, kedua, atau ketiga? 

Pilihan POV akan mempengaruhi seberapa dekat pembaca dengan karakter dan cerita. 

Untuk cerpen religi, POV orang pertama bisa membuat pembaca merasa lebih dekat dengan perjalanan spiritual karakter. Namun, POV 3 bisa memberikan fleksibilitas dalam bercerita. 

Jadi, bagaimana cara memilih POV untuk cerpen religi? 

Aku akan membuat studi kasus untuk contoh cerita religi  dengan tokoh Farhan tadi. 

Studi Kasus Pemilihan POV untuk Cerpen Religi 

Dalam menentukan sudut pandang (Point of View/POV) terbaik untuk cerita tentang Farhan, kita perlu mempertimbangkan beberapa aspek penting dari cerita. 

Contohnya: Kedalaman emosional, akses ke pemikiran dan perasaan karakter, serta kesempatan untuk mengembangkan dunia cerita dan karakter lainnya. 

Berikut adalah analisa pertimbangan untuk dua POV yang paling umum digunakan yaitu POV orang pertama dan POV orang ketiga.

1. POV Orang Pertama (Saya)

Kelebihan sudut pandang orang pertama dalam cerita Farhan adalah:

  • Kedalaman Emosional – Menggunakan POV orang pertama memungkinkan pembaca untuk merasakan emosi Farhan secara langsung. Ini menciptakan koneksi yang kuat antara pembaca dan Farhan, membuat pengalaman spiritual dan perjuangannya menjadi lebih intim dan pribadi.
  • Akses Langsung ke Pemikiran dan Perasaan – Pembaca mendapatkan akses langsung ke pemikiran dan perasaan Farhan. Jadi, POV 1 akan memberikan pengetahuan yang mendalam tentang pertumbuhan spiritual dan perjuangannya dengan manajemen waktu.

Kekurangan sudut pandang orang pertama dalam cerita Farhan adalah:  

  • Terbatasnya Perspektif – Pembaca hanya mendapatkan cerita dari sudut pandang Farhan. Tentu saja, ini bisa membatasi pemahaman mereka tentang tokoh lain dan situasi secara keseluruhan.
  • Risiko Keseragaman Suara –  Terkadang, POV 1 bisa terlalu mendominasi. Ini mungkin membuat cerita jadi kurang variatif dalam penyajian perspektif.

2. POV Orang Ketiga (Dia/ia)

Kelebihan sudut pandang orang ketiga dalam cerita Farhan adalah:

  • Fleksibilitas dalam Menceritakan – POV orang ketiga memungkinkan narasi untuk beralih antara berbagai karakter. Dengan kata lain, pembaca bisa tahu lebih luas tentang dunia cerita dan interaksi antar tokoh, termasuk Pak Arif dan teman-teman Farhan.
  • Objektivitas – Sudut pandang ini bisa memberikan gambaran yang lebih objektif tentang perjuangan Farhan. Tentu saja, ini memungkinkan pembaca untuk memahami situasi dari berbagai sudut pandang.

Kekurangan sudut pandang orang ketiga dalam cerita Farhan adalah: 

  • Koneksi Emosional Kurang Kuat – Meskipun POV orang ketiga bisa sangat efektif dalam menceritakan kisah, terkadang koneksi emosional antara pembaca dan tokoh utama tidak seintens POV orang pertama.
  • Pengembangan Karakter – Memperdalam pengembangan karakter bisa menjadi lebih menantang, terutama jika penulis tidak memilih untuk fokus secara eksklusif pada Farhan.

Jadi, mana sudut pandang yang lebih baik untuk cerita Farhan?

Untuk cerita Farhan, POV orang pertama mungkin lebih cocok jika tujuan utamanya adalah untuk mengeksplorasi perjalanan spiritual dan emosional Farhan secara mendalam. 

Hal ini bikin pembaca bisa “berjalan” bersama Farhan dalam perjuangannya mencari kedekatan dengan agamanya dan mengatasi rintangan manajemen waktu.

Namun, jika cerita ingin mengeksplorasi dinamika antara Farhan dengan lingkungan sekitarnya, maka POV orang ketiga bisa menjadi pilihan yang lebih baik.

Nah, itu salah satu contoh analisa dalam pemilihan POV untuk cerita. 

Intinya, pertimbangkan tujuan utama ceritamu dan efek yang ingin kamu capai pada pembaca ketika memilih POV untuk cerita.

6. Mulai Menulis Draft Pertama

Oke, sekarang kita sampai pada bagian yang paling seru: mulai menulis draft pertama ceritamu. 

Ini tahap di mana kamu benar-benar mulai menuangkan semua ide yang ada di kepalamu ke dalam kata-kata. Dan ingat, jangan terlalu stres tentang membuat semuanya sempurna dari awal.

Pada tahap ini, yang paling penting adalah kamu bisa mendapatkan rekaman semua pikiran, ide, dan cerita yang berkecamuk di kepala kamu ke dalam dokumen atau buku catatanmu. 

Anggap saja seperti kamu sedang menaruh semua bahan masakan di meja sebelum mulai memasak. Belum perlu rapi atau sesuai resep, yang penting semuanya sudah siap untuk diproses.

Kesalahan ejaan? Kalimat yang berantakan? Ide yang belum terkoneksi dengan baik? Biarkan saja dulu. Semua itu bisa kamu perbaiki nanti. 

Yang penting sekarang adalah kamu mulai menulis dan menjaga aliran ide kamu terus mengalir. 

Pikirkan draft pertama ini sebagai sketsa kasar dari lukisan yang ingin kamu buat. Detailnya, warnanya, dan sentuhan akhirnya bisa kamu tambahkan nanti.

Contoh Menulis Draft Pertama untuk Cerita Religi

Oke, mari kita buat draft kasar cerita Farhan dengan menggunakan struktur 7-point yang kamu berikan. 

Ini hanya draft pertama, jadi ingat, kita nggak perlu khawatir soal kesempurnaan sekarang. Yang penting, semua ide kita tuangkan dulu ke dalam tulisan.

Hook (Awal):
Di malam yang tenang di desa kecilnya, Farhan duduk sendirian di kamarnya. Ia memandangi langit yang dihiasi bintang-bintang. Bulan Ramadan telah tiba, tapi dia merasa ada kekosongan. Meski kesibukan sekolah dan lesnya memenuhi hari-harinya, dia merindukan kedekatan yang lebih dengan agamanya.

Plot Turn 1:
Keesokan harinya, di kelas agama, Pak Arif memberikan sebuah tugas yang tidak biasa: “Cari waktu untuk beribadah dalam jadwal harianmu dan tuliskan pengalamannya.” Farhan merasa ini adalah tantangan, tapi juga kesempatan untuk menemukan apa yang dia cari.

Pinch 1:
Mencoba mengikuti saran Pak Arif, Farhan mulai merasa kewalahan. Antara sekolah, les, dan kegiatan lain, waktu untuk beribadah terasa semakin sempit. Dia mulai bertanya-tanya, “Apakah mungkin menjalankan semua ini tanpa mengorbankan yang lain?”

Midpoint:
Pada suatu sore, setelah kelas, Farhan memutuskan untuk mengunjungi Pak Arif. Dalam pembicaraan yang hangat, Pak Arif berbagi tentang pentingnya manajemen waktu dan bagaimana prioritas sejati bisa membantu menemukan keseimbangan. “Kuncinya bukanlah melakukan lebih banyak,” kata Pak Arif, “tapi melakukan dengan lebih berarti.”

Pinch 2:
Farhan mencoba menerapkan nasihat tersebut. Namun, awalnya, dia menemukan dirinya gagal berkali-kali. Setiap usaha untuk menyisihkan waktu beribadah terganggu oleh kebutuhan atau tugas lain. Rasa frustasi dan keraguan mulai menyelimutinya.

Plot Turn 2:
Tapi, Farhan tidak menyerah. Dia mulai mencari metode yang lebih fleksibel dan pribadi untuk beribadah. Lambat laun, dia menemukan cara untuk mengintegrasikan ibadah dalam rutinitasnya, seperti berdzikir dalam perjalanan ke sekolah atau mendengarkan ceramah agama saat istirahat.

Resolution (Akhir):
Bulan Ramadan berakhir, dan Farhan merasakan transformasi dalam dirinya. Dia tidak hanya berhasil menemukan waktu untuk beribadah, tapi juga merasakan kedekatan dengan Tuhan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa bersyukur dan damai, menyadari bahwa keseimbangan antara dunia dan ibadah bukanlah hal yang mustahil.

Ingat, ini hanya draft awal, kamu bisa menambahkan, mengurangi, atau mengubah detail cerita sesuai dengan pengembangan cerita lebih lanjut. 

Yang terpenting adalah, cerita ini sudah mulai mengambil bentuk dan siap untuk dipoles lebih lanjut!

7. Memoles Cerita dengan 4 Tahapan Editing

Setelah menyelesaikan draft pertama cerita, langkah selanjutnya adalah memoles cerita tersebut agar menjadi lebih baik lagi. 

Proses editing ini terbagi menjadi empat tahap: developmental editing, copy editing, line editing, dan proofreading. 

Mari kita lihat bagaimana menerapkan setiap tahap tersebut pada cerita Farhan.

1. Developmental Editing

Developmental editing punya fokus utama pada evaluasi dan perbaikan struktur cerita secara keseluruhan. Tanyakan pada dirimu sendiri:

  • Apakah alur cerita Farhan logis dari awal hingga akhir?
  • Apakah tema tentang mencari keseimbangan antara ibadah dan kesibukan sehari-hari sudah tersirat dengan jelas?
  • Apakah ada bagian cerita yang terasa terburu-buru atau terlalu lambat?

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kamu mungkin perlu menambahkan lebih banyak detail pada bagian Farhan merasa frustrasi atau mengurangi detail pada bagian yang kurang relevan dengan tema utama.

2. Line Editing

Tahap ini lebih detail lagi. Line editing adalah fase penyuntingan di mana kamu perlu memperbaiki kalimat untuk membuatnya lebih jelas dan menarik. 

Gunakan metafora, simile, dan metode seperti show don’t tell untuk menambah kedalaman pada narasi.

Contoh perbaikan dari “Dia marah” menjadi “Api menjalar di kedua bola matanya” tidak hanya menunjukkan emosi tapi juga bagaimana emosi tersebut mempengaruhi Farhan secara fisik.

3. Copy Editing

Setelah cerita terasa solid, fokuskan perhatian pada struktur kalimat, pilihan kata, dan konsistensi gaya penulisan cerita religi. Inilah yang disebut dengan copy editing. 

Pastikan kamu menggunakan kalimat yang konsisten dan memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan ide.

Misalnya, jika kamu menulis “Farhan mulai belajar beribadah”, pertimbangkan apakah “mulai” adalah kata yang tepat atau mungkin “berusaha” lebih menggambarkan proses Farhan.

4. Proofreading

Tahap terakhir adalah mencari dan memperbaiki kesalahan tipografi atau ejaan. Ini penting untuk memastikan ceritamu bebas dari kesalahan yang bisa mengganggu pembaca.

Estimasi Waktu untuk Proses Penyuntingan dan Pemolesan Karya

Berikut adalah tabel yang merangkum tahapan editing, estimasi waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing tahap, dan fokus utama dari setiap tahapan editing:

Tahapan EditingEstimasi WaktuFokus Editing
Developmental Editing1-2 mingguEvaluasi dan perbaikan struktur cerita secara keseluruhan.
Line Editing3-7 hariMemperbaiki kalimat untuk membuatnya lebih jelas dan menarik.
Copy Editing3-7 hariStruktur kalimat, pilihan kata, dan konsistensi gaya.
Proofreading2-3 hariMencari dan memperbaiki kesalahan tipografi atau ejaan.

Setelah melewati semua tahap editing ini, cerita Farhan akan siap untuk dibagikan kepada pembaca. 

Ingat, proses editing bisa memakan waktu dan mungkin perlu diulang beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang terbaik. 

Jadi, bersabarlah dan nikmati proses kreatif ini. Kamu sedang satu langkah lebih dekat untuk menyampaikan cerita Farhan yang inspiratif dan membangun kepada dunia.

Finalisasi Cerpen Religi 

Nah, kamu udah melewati perjalanan yang panjang nih dalam menulis cerpen religimu. 

Mulai dari menetapkan tema yang ingin kamu angkat, bikin premis atau ide dasar ceritanya, mengembangkan karakter atau tokoh utamanya, membangun alur cerita yang menarik, memilih dari sudut pandang mana kamu mau menceritakan kisahnya, menulis draft awalnya, dan terakhir memoles ceritanya sampai kinclong. 

Sekarang, saatnya ceritamu bersinar di mata dunia.

Setelah melewati semua tahap itu, karyamu udah siap untuk dikirim ke lomba penulisan atau dipublikasikan. 

Ini artinya, kamu sudah siap untuk membagikan inspirasi, hikmah, dan pesan-pesan positif dari cerpen religimu kepada pembaca. 

Sekarang, ceritamu bisa jadi sumber inspirasi bagi orang lain. Siapa tahu, kisah yang kamu tulis bisa menyentuh hati pembaca dan memberi mereka perspektif baru tentang kehidupan.

Jadi, jangan ragu untuk mengirimkan cerpenmu ke majalah, jurnal, website, atau kompetisi penulisan cerpen religi. 

Atau, kamu juga bisa mempublikasikannya sendiri di blog atau media sosial pribadimu. 

Yang penting, kamu sudah berusaha sebaik mungkin dengan belajar cara menulis cerpen religi ini.  Sekarang, tiba saatnya karyamu dikenal lebih luas. Selamat menulis!

BACA JUGA:   Cara Menulis Cerpen dari Peristiwa yang Dialami Sendiri

Sejak 2018, Tika Widya sudah menjadi pejuang kata-kata dengan membuka layanan penulisan, membangun komunitas penulis, meraih prestasi nasional - internasional dan mendapatkan sertifikasi profesi dari BNSP. Kini, ia memiliki kelas penulisan sendiri sekaligus mengajar di Tempo Institute. Tika Widya selalu siap menjadi sahabat menulis favorit yang mendampingi siapapun untuk mengejar mimpi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *