Penulisan Novel dengan Menggunakan 7-Point StructurePenulisan Novel dengan Menggunakan 7-Point Structure

Halo, teman-teman penulis! Tahukah kamu bahwa menerapkan struktur cerita yang baik dan benar dalam penulisan novel itu tidak semudah membalikkan telapak tangan? 

Terkadang, kamu pasti merasa pengen jadi pantser saja. Terlebih lagi, struktur cerita memang sering bikin pusing di awal. 

Sayangnya, kamu nggak bisa begitu saja skip tahapan ini. Pasalnya, struktur cerita bisa membantu kamu dalam menyusun plot untuk narasi novel. 

Gampangannya: 

Struktur cerita adalah blueprint untuk fiksi yang akan kamu tulis. Jadi, kamu bisa menggunakannya untuk mengetahui apakah narasimu sudah on point dan tidak melebar kemana-mana. 

Lebih daripada itu, cerita yang terstruktur rapi akan membuat kamu tahu kapan kamu harus mengakhiri cerita maupun maju ke tangga dramatis berikutnya. 

Oleh karena itu, dalam tulisan ini sahabat menulis favorit kamu akan membahas salah satu struktur cerita yang efektif untuk penulisan novel yaitu 7-point structure

Tidak hanya ramah bagi pemula, 7-point structure juga bisa digunakan penulis profesional. 

Sekilas Tentang Struktur Cerita

Struktur cerita adalah urutan di mana unsur-unsur narasi disajikan kepada pembaca. Struktur yang baik dibangun dari 2 hal penting, yaitu: 

  • Plot — rangkaian peristiwa yang terjadi 
  • Elemen cerita — faktor yang mendasari/mendorong terjadinya peristiwa: protagonis, konflik, pengaturan, dll.

Dengan menyatukan plot dan faktor pendorongnya, seorang penulis dapat menyampaikan sebuah cerita secara kohesif.

Nah, sebenarnya, ada banyak struktur cerita yang bisa kamu terapkan saat menulis novel. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Three Act Structure – Teknik paling umum yang dibuat oleh Aristoteles.
  2. Freytag’s Pyramid – Buatan Gustav Freytag seorang penulis Jerman pada abad ke 19.
  3. Hero’s Journey – Struktur cerita paling klasik di dunia yang sudah dipake sejak zaman Beowulf.
  4. Save The Cat! – dari Blake Snyder diadaptasi oleh Jessica Brody untuk penulisan novel. Kamu sudah bisa beli buku panduan versi terjemahannya di toko terdekat!
  5. 7-Point Structure – Struktur dari Dan Wells yang sudah digunakan di berbagai karya populer termasuk The Hunger Games.
BACA JUGA:   5 Alat Pendukung Kreativitas untuk Penulis: Carinya di Mana?

Dalam tulisan kali ini, kita akan fokus membahas penerapan dari 7-point structure dalam membuat alur cerita.

Cara Menggunakan 7-Point Structure dalam Penulisan Novel

7-point structure termasuk struktur yang relatif baru. Struktur ini pertama kali dipopulerkan oleh penulis sci-fi dan penggemar RPG Dan Wells pada konferensi Life, the Universe, & Everything 2013

Dia mengambil struktur yang diuraikan dalam Panduan Narator Game Role Playing Star Trek dan mengubahnya menjadi sistem yang kemudian digunakan banyak penulis lain untuk membangun novel mereka.

Jadi, apa sebenarnya 7-point structure itu? Mari kita tinjau diagram di bawah ini bersama-sama!

skema penulisan novel 7 point structure
  • Awal Cerita: Eksposisi untuk dunia dan karakter utama kamu
  • Plot Turn 1: Inciting Incident
  • Pinch 1: Bagian di mana tokoh utama mendapatkan lebih banyak  tekanan 
  • Mid: titik balik dalam cerita di mana protagonis berubah dari reaksi menjadi aksi
  • Pinch 2: konflik besar berubah menjadi lebih buruk, dan all is lost
  • Plot Turn 2: protagonis menemukan sesuatu yang membantu mereka menyelesaikan konflik besar atau mengalahkan antagonis
  • Ending: konflik utama diselesaikan, dan antagonis dikalahkan.

5 Langkah Mudah Menyusun Struktur Cerita dengan 7-Point Structure

Dengan metode ini, kamu hanya membutuhkan tokoh utama dan beberapa peristiwa yang akan terjadi sepanjang novel. 

Dalam tutorial kali ini, saya akan membahas langkah-langkah menyusun 7-point structure sekaligus memberikan contoh penerapannya. 

Jadi, sebelumnya saya akan menyampaikan premis cerita yang akan digunakan dalam pembahasan kita kali ini. 

Premis

Lana ingin balikan dengan mantannya demi memenuhi keinginan kedua orang tuanya, namun sang mantan ternyata adalah pacar dari sahabatnya yang sekarang. 

Tokoh Utama

Selanjutnya, ini adalah breakdown karakter si Lana yang bakalan jadi objek percontohan kita. Jadi, ini cuma contoh saja untuk memudahkan teman-teman penulis.

1. Mulai dari Ending 

Saat merencanakan sebuah novel, kamu sebaiknya memulai dari ending-nya. Terlebih lagi, dengan menentukan resolusi cerita, kamu akan memiliki arah yang jelas sepanjang proses penulisan novel.

BACA JUGA:   Struktur Format Penulisan Surel yang Profesional

Resolusi bisa menjadi akhir dari sebuah narrative arc: di mana masalah utama cerita terpecahkan. 

Lebih daripada itu, ending juga seharusnya menjadi tahap akhir dari character arc sang protagonis: di mana mereka berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk. 

Contoh Ending dalam cerita Lana: 

Lana tidak jadi balikan dengan mantannya. 

2. Balik ke Awal Cerita 

Dengan ending yang jelas, kamu sekarang dapat kembali ke awal cerita. 

Nah, ketika kamu ingin membuat tangga dramatis yang kuat maka pastikan bahwa awal cerita berada di titik yang bertolak belakang dari akhirnya. 

Singkatnya, kamu perlu memulai dari titik yang berlawanan dari ending untuk membuat cerita yang transformatif dan memuaskan pembaca.  

Contoh awal cerita Lana: 

Lana berhasil menjadi penulis sukses dan siap menjajaki relationship sesuai dengan permintaan orangtuanya.

3. Mid Point 

Untuk memperkuat kerangka cerita, tentukanlah mid point-nya. Dalam struktur ini, mid point adalah peristiwa yang membagi cerita Anda menjadi dua bagian:

  • Karakter utama bereaksi terhadap lingkungan di sekitar mereka.
  • Karakter utama secara proaktif bekerja menuju tujuan mereka sendiri.

Biasanya, titik balik ini datang dengan pemicu atau peristiwa yang dapat memacu protagonis untuk menetapkan tujuan baru bagi diri mereka sendiri. 

Ini biasanya merupakan ‘false victory‘ di mana karakter ‘memenangkan’ sesuatu atau mungkin mendapatkan hal yang tampaknya mereka inginkan.

Contoh Mid Point dalam kisah Lana: 

Lana meminta mantan untuk berpura-pura menjadi pacarnya di depan orangtuanya.

4. Plot Turn 1 & 2

Setelah membangun kerangka, kamu dapat menambahkan daging pada struktur cerita! Mulailah dengan membangun jembatan antara awal cerita dan Mid Point.

Plot Turn 1

Awal cerita biasanya mengekspos status quo di dunia si tokoh utama. Jadi, kamu perlu membuat sebuah peristiwa/inciting incident yang mendorong protagonis keluar dari situasi stabil ini. 

BACA JUGA:   Cara Menulis Novel Sejarah Pribadi

Dengan kata lain, harus ada sedikit perubahan dalam perjalanan cerita untuk membuat cerita bergerak. 

Contoh plot turn 1 atau inciting incident

Lana tidak sengaja bertemu kembali dengan mantan saat orangtua-nya berkunjung ke kantor. 

Plot Turn 2

Untuk melanjutkan metode simetris yang telah kamu kerjakan sejauh ini, maka kamu harus membuat plot turn 2. Bagian ini adalah poin penting dalam cerita, di mana segala sesuatunya mulai menuju ke akhir. 

Idealnya, plot turn 2 akan terjadi setelah mid point dan menyelesaikan konflik utama cerita serta membawa kita ke garis finis.

Poin ini biasanya kontras dengan Plot Turn 1 karena merupakan puncak dari character arc

Alih-alih dipaksa untuk melakukan sesuatu, protagonis akan secara aktif memilih untuk menyelesaikan permasalahan utamanya. 

Contoh Plot Turn 2: 

Lana akhirnya berterus terang tentang status hubungannya dengan si mantan kepada kedua orangtuanya.

5. Pinch 1 dan 2 

Kamu sekarang memiliki cerita kasar berupa status quo, call to adventure, epiphany, tindakan pamungkas, dan resolusi. 

Yang kamu butuhkan hanyalah titik-titik tekanan atau momen-momen yang menyatukan bagian-bagian yang berbeda dan meningkatkan ketegangan untuk membuat cerita lebih exciting. 

Oleh karena itu, kamu perlu membuat pinch 1 tepat setelah plot turn 1. 

Contoh Pinch 1 dalam cerita Lana: 

Lana mengetahui bahwa ternyata si mantan sudah jadian dengan sahabatnya.

Sedangkan, pinch 2 terletak pas sebelum plot turn 2 dan berfungsi sebagai pendorong terjadinya klimaks. 

Contoh pinch 2 dalam cerita Lana: 

Sahabat Lana marah karena Lana mencium kekasihnya.

Penulisan Novel dalam Skema 7 Point: Hasil Akhirnya?

Nah, ini hasil akhir breakdown cerita Lana setelah kamu menerapkan 7-point structure. 

Awal Lana sukses menjadi penulis dan sedang mencari pacar demi menuruti orangtuanya.
Plot Turn 1 Saat ortu berkunjung ke kantor, Lana tidak sengaja bertemu lagi dengan mantannya.
Pinch 1 Ternyata, si mantan kini pacaran dengan sahabat Lana. Padahal, ortu meminta Lana balikan.
Mid Point Lana memohon agar mantan berpura-pura jadi pacarnya di sebuah acara bersama ortu untuk sekali saja.
Pinch 2Nggak disangka sahabat Lana datang ke acara itu dan melihat Lana mencium pacarnya.  Ia pun marah.
Plot Turn 2Lana akhirnya berterus terang pada ortu-nya demi mendapatkan sahabatnya kembali.
EndingLana tidak balikan dengan mantannya tetapi ia kini punya dua sahabat untuk seumur hidup.

Yey! Sudah jadi strukturnya. Sekarang, kamu sudah punya blueprint untuk mengembangkan cerita Lana jadi sebuah novel. 

Mudah banget, kan? Yuk, coba terapkan cara ini di penulisan novel kamu sendiri!

By Tika Widya

Tika Widya C.DMP adalah seorang penulis yang sudah menekuni industri kreatif secara profesional sejak tahun 2018. Ia telah menjadi content writer, copywriter dan creative writer pada lebih dari 914+ proyek penulisan skala nasional dan internasional. Pada tahun 2024, ia berhasil menjadi satu-satunya penulis Indonesia yang masuk daftar Emerging Writer Australia-Asia. Kini, Tika Widya mengajar menulis lewat Tikawidya.com, Tempo Institute dan Kelas Bersama. Ia juga membentuk Komunitas Belajar Nulis yang aktif mengawal 1800+ penulis dari seluruh Indonesia untuk terus berkarya dan menyemarakkan industri literasi nusantara.

One thought on “Penulisan Novel dengan Menggunakan 7-Point Structure”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *