Red herring sering dipakai dalam cerita untuk mengarahkan perhatian pembaca ke sesuatu yang terlihat penting padahal tujuannya hanya menipu mereka agar fokus pada hal yang salah.
Apa yang Dimaksud dengan Red Herring?
Red herring adalah teknik penulisan yang menggunakan petunjuk palsu atau informasi menyesatkan untuk mengalihkan perhatian pembaca dari kebenaran dalam cerita. Teknik ini membuat pembaca percaya pada sesuatu yang tampaknya logis, tetapi ternyata tidak ada kaitannya dengan penyelesaian konflik.
Red herring merupakan strategi agar pembaca membangun asumsi tertentu. Tujuannya adalah membuat proses membaca menjadi lebih menarik karena pembaca diajak membuat dugaan yang ternyata keliru.
Teknik ini biasanya digunakan dalam cerita misteri, thriller, atau cerita yang melibatkan teka-teki. Namun, kamu juga bisa menggunakannya dalam genre lain selama informasi palsu itu punya peran dalam membangun alur.
Apa Fungsi Red Herring dalam Cerita?
Red herring digunakan untuk memperkuat kejutan dan membangun kejernihan alur. Dengan adanya petunjuk palsu, pembaca terdorong untuk memecahkan cerita, membuat asumsi, dan merasa ingin mengetahui kebenaran sebenarnya.
Beberapa fungsi red herring yaitu:
- Mengalihkan perhatian pembaca dari fakta penting.
- Membangun rasa penasaran dan ketegangan.
- Membuat plot twist jadi tidak mudah ditebak.
- Menjaga ritme cerita agar tetap menarik dan tidak datar.
Kamu bisa memakai red herring untuk menjaga agar pembaca tidak langsung mengetahui pelaku, motif, atau penyelesaian konflik. Hasilnya, kejutan di akhir cerita terasa lebih alami.
Apa Bentuk-Bentuk Red Herring dalam Penulisan Cerita?
Red herring dapat hadir dalam berbagai bentuk. Kamu bisa menggunakannya melalui karakter, dialog, peristiwa, atau detail kecil yang tampaknya tidak berarti tetapi memengaruhi cara pembaca menilai cerita.
Beberapa bentuk red herring yang umum digunakan yaitu:
- Karakter mencurigakan: Tokoh yang terlihat punya motif kuat tetapi ternyata tidak terlibat dalam konflik utama.
- Petunjuk palsu: Barang, jejak, atau informasi yang terlihat penting tetapi tidak ada hubungannya dengan solusi cerita.
- Kesalahan asumsi tokoh: Tokoh utama mengambil kesimpulan yang keliru dan pembaca diarahkannya ikut percaya.
- Tuduhan yang salah: Situasi yang membuat tokoh lain terlihat bersalah padahal tidak ada keterlibatannya.
- Dialog ambigu: Ucapan tokoh yang terdengar mencurigakan tetapi sebenarnya tidak memiliki maksud tersembunyi.
Red herring dapat digunakan secara halus atau terlihat jelas, tetapi harus tetap masuk akal ketika cerita selesai.
Bagaimana Cara Menggunakan Red Herring dengan Efektif?
Red herring harus dibangun secara logis. Kamu tidak bisa memberikan petunjuk palsu tanpa hubungan dengan alur utama, karena itu akan terasa tidak adil bagi pembaca. Informasi palsu tetap harus punya alasan keberadaannya dalam cerita.
Beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan yaitu:
- Ciptakan petunjuk palsu yang masih terkait dengan konflik.
- Pastikan red herring tidak menghilangkan logika alur.
- Buat pembaca percaya dengan menunjukkan detail yang tampak kredibel.
- Berikan twist yang menjelaskan alasan red herring tersebut muncul.
Red herring efektif ketika pembaca menganggap plot twist masuk akal. Mereka dapat melihat kembali petunjuk-petunjuk yang kamu tanam dan menyadari bahwa semua itu memang memberikan arah yang keliru.

