Halo, Parents! Mari kita mulai dengan sebuah pemandangan yang mungkin sudah sangat akrab di mata kita.
Bayangkan Parents sedang berada di playground atau taman bermain. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan melengking, “INI PUNYAKU! JANGAN PINJAM!” Tak lama kemudian, ada suara tangisan anak lain yang didorong karena mencoba menyentuh mainan tersebut.
Sebagai orang tua yang melihat kejadian itu (apalagi kalau yang teriak itu anak kita sendiri), rasanya pasti campur aduk. Ada rasa malu, ada rasa kesal, dan ada kekhawatiran yang menyelinap: “Duh, kok anakku pelit banget ya?” atau “Kenapa dia nggak peduli kalau temannya nangis?”
Di tengah dunia yang makin kompetitif dan individualis ini, kekhawatiran Parents sangat beralasan. Kita sering kali terfokus mencetak anak yang pintar secara kognitif—les matematika, les bahasa Inggris, les koding—tapi lupa pada satu “keterampilan lunak” (soft skill) yang justru menjadi penentu utama kesuksesan mereka di masa depan: EMPATI.
Di kota besar yang serba cepat ini, di mana tekanan akademik sering kali mengesampingkan kesehatan mental, mencari lingkungan pendidikan yang mengutamakan school wellbeing menjadi sangat krusial. Kenapa? Karena empati tidak bisa diajarkan hanya lewat buku teks; ia harus ditumbuhkan dalam lingkungan yang sejahtera secara emosional.
Artikel ini akan mengajak Parents untuk menyelami dunia empati. Kita akan bahas kenapa ini bukan sekadar soal “sopan santun”, tapi soal kemampuan bertahan hidup (survival skill) di abad 21. Dan tentu saja, tips praktis melatihnya tanpa harus banyak ceramah. Yuk, simak!
Apa Sebenarnya Empati Itu? (Bukan Sekadar Kasihan)
Banyak orang menyamakan empati dengan simpati, padahal keduanya berbeda.
- Simpati itu melihat dari luar: “Duh, kasihan ya dia jatuh.” (Jarak emosional).
- Empati itu masuk ke dalam: “Aku bisa merasakan sakitnya jatuh dan malunya dilihat orang.” (Koneksi emosional).
Brené Brown, seorang peneliti ternama, mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan dan melihat perspektif mereka.
Empati itu ibarat sinyal Wi-Fi yang tidak terlihat mata; tanpanya, kita mungkin berdiri berdekatan dengan orang lain, namun tidak akan pernah benar-benar terhubung. (Majas Analogi).
Anak yang punya empati tinggi tidak akan mem-bully temannya, karena dia tahu rasanya sakit hati. Anak yang punya empati akan menjadi pemimpin yang didengar, karena dia mengerti kebutuhan timnya. Jadi, empati adalah fondasi dari kecerdasan sosial (Social Intelligence).
Mengapa Empati Jadi Barang Mahal di Era Digital?
Generasi anak-anak kita sekarang menghadapi tantangan yang tidak kita alami dulu: Layar Gadget.
Sebuah studi dari University of Michigan menunjukkan penurunan tingkat empati sebesar 40% pada mahasiswa di era 2000-an dibandingkan era sebelumnya. Kenapa? Karena interaksi tatap muka berkurang drastis.
Di Jakarta, anak-anak sering kali diasuh oleh gadget supaya anteng. Masalahnya, layar HP tidak bisa mengajarkan ekspresi wajah mikro (micro-expressions). Anak tidak belajar membaca raut wajah sedih, kecewa, atau marah karena emoji di WhatsApp tidak mewakili emosi manusia yang kompleks.
Ditambah lagi dengan hustle culture orang tua Jakarta. Kita sering pulang kerja dalam keadaan lelah dan “kosong”. Saat anak cerita, kita cuma jawab “Hmm, ya, bagus.” Kita gagal mencontohkan empati di rumah, sehingga anak pun tumbuh dengan kekeringan emosi.
Peran Krusial “School Wellbeing” dan Mindfulness
Di sinilah peran sekolah menjadi sangat vital. Sekolah tidak boleh hanya jadi tempat transfer ilmu, tapi harus jadi inkubator karakter. Konsep School Wellbeing memastikan bahwa anak merasa aman, dihargai, dan didengar di sekolah.
Hanya ketika anak merasa “penuh” dan sejahtera (well), mereka punya kapasitas untuk memikirkan orang lain. Anak yang stres dan tertekan tidak akan bisa berempati (karena mode otaknya sedang survival).
Salah satu metode terbaik untuk melatih empati di sekolah adalah melalui Mindfulness. Global Sevilla, sebagai salah satu institusi pendidikan terdepan di Jakarta, menempatkan mindfulness sebagai jantung dari kurikulum kesejahteraan siswa mereka.
Mengutip pandangan dari Global Sevilla mengenai filosofi ini:
“Mindfulness bukan sekadar latihan pernapasan. Di Global Sevilla, kami menanamkan mindfulness sebagai cara hidup untuk membangun kesadaran diri (self-awareness). Kami percaya bahwa empati dimulai dari dalam. Seorang anak tidak akan bisa memahami perasaan temannya jika ia tidak mengenali perasaannya sendiri. Dengan menciptakan lingkungan school wellbeing yang berbasis mindfulness, kami melatih siswa untuk ‘hadir’ (be present), mendengarkan tanpa menghakimi, dan merespons orang lain dengan kasih sayang (compassion).”
Kutipan ini sangat powerful. Empati butuh ketenangan. Di dunia yang berisik, kemampuan untuk “jeda” dan “hadir” adalah kunci untuk memahami orang lain.
Tahapan Perkembangan Empati pada Anak
Parents perlu tahu bahwa empati itu berkembang bertahap, nggak langsung jadi.
- Balita (Toddler): Masih egosentris. Dunia berpusat pada mereka. Kalau mereka rebut mainan, bukan karena jahat, tapi karena belum paham konsep “milik orang lain”.
- Preschool (3-5 tahun): Mulai paham teori pikiran (Theory of Mind). Mulai sadar bahwa “Oh, pikiran Ibu beda sama pikiran aku.”
- Usia Sekolah (6+ tahun): Mulai bisa menempatkan diri di posisi orang lain (perspective taking) secara lebih kompleks.
Jadi, jangan frustrasi kalau anak 2 tahun masih pelit. Itu fase normal. Tugas kita adalah membimbingnya naik ke level selanjutnya.
Tips Praktis Melatih Empati Sehari-hari
Gimana cara melatihnya di rumah tanpa terkesan menggurui? Berikut tips praktisnya:
1. Perkaya Kosakata Emosi (Emotional Vocabulary)
Anak sering memukul karena tidak bisa bilang “Aku marah”. Ajarkan nama-nama emosi. Gunakan chart ekspresi wajah. “Adik mukanya merah dan tangannya mengepal. Itu namanya Marah. Adik marah karena menaranya roboh ya?” Semakin kaya kosakata emosinya, semakin mudah dia mengenali emosi orang lain.
2. Jadilah Role Model (Ini Paling Susah!)
Anak adalah peniru ulung. Kalau Parents memaki pengendara motor yang memotong jalan, anak belajar: “Orang yang salah pantas dimaki.” Coba ganti responnya: “Wah, Bapak itu ngebut banget. Mungkin dia lagi buru-buru ada urusan darurat ya. Semoga dia selamat.” Ini mengajarkan perspective taking secara langsung.
3. Gunakan Momen TV/Buku Cerita
Saat nonton kartun dan ada karakter yang jatuh atau sedih, tekan tombol pause. Tanya ke anak: “Liat deh mukanya SpongeBob. Kira-kira dia lagi ngerasa apa ya? Sedih atau kecewa? Kalau kamu jadi dia, apa yang kamu rasakan?” Latihan imajinasi ini sangat ampuh mengasah saraf empati di otak.
4. Validasi, Jangan Membantah Perasaan
Saat anak menangis karena hal sepele (misal: biskuitnya patah), jangan bilang: “Ah, gitu aja nangis. Lebay.” Itu mematikan empati. Bilanglah: “Adik sedih ya biskuitnya patah? Padahal Adik maunya yang utuh ya. Sini Mama peluk.” Saat anak merasa perasaannya divalidasi, dia belajar cara memvalidasi perasaan orang lain nantinya.
5. Ajarkan “Random Acts of Kindness”
Ajak anak berbuat baik tanpa alasan. Misalnya: Memberi tip lebih ke ojek online, memberi makan kucing jalanan, atau menahan pintu lift untuk orang lain. Setelah itu tanya: “Gimana rasanya liat Bapak Ojol tadi senyum? Hati Adik rasanya hangat nggak?” Bantu mereka menghubungkan kebaikan dengan rasa bahagia.
Empati vs. People Pleasing (Awas Jebakan!)
Satu hal penting: Ajarkan bedanya berempati dengan menjadi “keset kaki” (people pleaser). Banyak anak yang terlalu diajarkan untuk “mengalah demi orang lain” akhirnya tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak punya batasan (boundaries) dan gampang dimanfaatkan.
Empati yang sehat adalah: “Aku mengerti kamu marah, tapi kamu tidak boleh memukul aku.” Ini penting. Anak harus tetap punya harga diri. Empati bukan berarti setuju dengan semua perilaku buruk orang lain, tapi memahami alasan di balik perilaku itu tanpa mengorbankan diri sendiri.
Pentingnya Lingkungan Sekolah yang Mendukung
Latihan di rumah akan sia-sia kalau di sekolah anak berada di lingkungan yang toxic, penuh bullying, atau kompetisi yang tidak sehat.
Di Jakarta, banyak sekolah yang hanya fokus pada nilai akademik. Anak-anak diajarkan bersaing mengalahkan teman, bukan berkolaborasi. Lingkungan seperti ini mengikis empati.
Oleh karena itu, memilih sekolah yang mengedepankan School Wellbeing adalah investasi jangka panjang. Sekolah yang baik akan punya program:
- Anti-bullying yang tegas namun restoratif (memperbaiki hubungan, bukan cuma hukum).
- Kegiatan sosial (Community Service) yang rutin.
- Guru yang mendengarkan murid, bukan cuma menyuruh diam.
Di lingkungan seperti inilah benih empati yang Parents tanam di rumah akan disirami dan tumbuh subur.
Kesimpulan: Warisan Terbaik
Pada akhirnya, kecerdasan intelektual (IQ) mungkin akan membawa anak Parents ke pintu gerbang kesuksesan (masuk universitas top, dapat kerja bagus). Tapi, kecerdasan emosional dan empati-lah yang akan menentukan apakah mereka akan bahagia di dalam kesuksesan tersebut.
Empati membuat mereka menjadi suami/istri yang baik, orang tua yang sabar, pemimpin yang dicintai, dan sahabat yang setia. Itu adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar deretan piala di lemari.Jika Parents sedang mencari mitra pendidikan yang memiliki visi yang sama—yakni menempatkan kebahagiaan, kesehatan mental, dan pembentukan karakter welas asih sebagai prioritas utama di atas segalanya—Global Sevilla adalah tempat yang tepat. Dengan pendekatan berbasis mindfulness yang terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari, kami berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga hangat hatinya. Mari bergabung bersama kami untuk masa depan yang lebih manusiawi. Hubungi kami sekarang untuk informasi lebih lanjut.(ADV)

